Berjalan, bukan berlari, berjalan di atas bara api yang membara. Aku takut. Baru pertama kali aku harus mengalami hal ini. Perasaan takut itu terus menggangguku, merayuku untuk tidak melanjutkan. Tapi, aku harus! Memang ini bukan sebuah kewajiban agama yang harus saya lakukan. Tapi, kali ini, tanpa alasan yang berarti, saya harus melakukannya. Pertama kali aku lihat bara itu, merah, hitam, menyinari malam. Angin malam meniupnya dan membuat api terbang ke udara. Bara itu berkelap-kelip merah-hitam seakan sedang berbicara betapa menakutkannya dia. Bagaimanapun juga, tumpukan bara sepanjang dua meter itu harus aku lewati, sekarang!
Bismillah. Aku jalan. Sempat terpikir sebelumnnya untuk memilih terlebih dahulu bagian bara mana yang ingin aku lewati. Tadinya, aku berniat untuk melewati bara yang mati saja. Bara yang tidak menyala, bara yang berwarna hitam. Mungkin, dengan begitu aku tidak akan merasakan panas. Tapi, nyatanya, tidak ada waktu untuk memilih. Bara itu terlalu menakutkan untuk membuat saya sempat mempertimbangkan hal yang cenderung tidak penting sejenis itu. Ah! Ini dia jawabannya! Bara ini adalah contoh nyatanya!
Mengapa kita cenderung takut menghadapi masalah? Masalah itu diciptakan untuk diselesaikan, bukan dihindari! Untuk apa kita mencari-cari celah agar kita terhindar dari masalah. Toh nyatanya, mengatasi masalah itu jauh lebih menyenangkan dan akan selalu membawa kebaikan. Tidaklah perlu kita mencari-cari bara hitam mati yang tidak membara jika ternyata memang melewati bara yang membara itu adalah keharusan.
Tidak bohong jika saya mengaku bahwa aku takut. Sempat terpikir olehku bagaimana nanti saat kita berada di jembatan Shiratal Mustaqim. Untuk melewati bara api ini saja, aku takut. Bagaimana nanti? Sanggupkah aku? Tapi, selanjutnya, setelah merasakan bahwa ternyata bara itu sanggup aku lewati, aku mulai tenang. Astaghfirullah. Bukan tenang, tapi sombong! Aku sombong! Baru saja merasakan “tidak panasnya” bara, aku sudah besar kepala dan dengan sombongnya menantang untuk melewati bara itu kembali. Aku tidak sadar bahwa sebenarnya bara itu panas. Tapi, karena kehendak Allah, aku dapat melewatinya dengan cepat sehingga terasa tidak panas. Allah-lah yang telah mengatur semuanya. Allah telah berkehendak bahwa semakin sebentar kita bersentuhan dengan sumber panas, semakin sedikit pula panas yang kita terima. Ini semua sudah ada yang mengatur. So, why did I still arrogant? Instead of saying alhamdulillah, I prefered to chellange it again. Whoah! Apakah hanya sampai disana niatku? Tidak adakah alasan yang lebih mulia dariku ketika melewati bara itu lagi? Mengapa niatku bukan untuk menunjukkan nikmat yang telah diberi oleh Allah kepadaku saat melewati bara itu, yakni dengan tidak membiarkan kalimat “ah, ternyata ga panas” melanglang buana dihatiku?
Sekali lagi kawan, janganlah kita sombong dengan apa yang telah kita raih, atau atas apa yang kita memiliki kelebihan terhadapnya. Sebenarnya, jika bukan karena Allah, kita tidak akan mungkin memperoleh apa yang kita nyatakan tadi. Apalagi, jika selanjutnya kita meremehkan hal itu dengan beranggapan bahwa kita menguasai segalanya. Tidak demikian kawan! Everything is Allah's!
Aku berjalan kembali diatas bara tanpa memilih-milih bara, tanpa takut akan panas, dan tentunya, dengan niat bersyukur atas kenikmatan yang Allah berikan saat aku berhasil melewati bara itu. Tanpa takut menghadapi masalah, tanpa sombong terhadap apa yang bukan kekuasaanku, tetapi dengan penuh harap akan keselamatan nanti saat melewati jembatan Shiratal Mustaqim. Wallahua'lam.



0 comments:
Post a Comment