Malam ini, 11 Juni 2008, saya menyaksikan debat masalah
Debat ini adalah debat yang membahas mengenai SKB yang baru saja dikeluarkan pemerintah dalam upaya mengatasi konflik masalah Ahmadiyah. Debat ini membahas mengenai kekuatan SKB, serta keberlangsungannya di
Apapun itu, menurut saya, terdapat beberapa hal penting yang terjadi dalam debat ini. Di dalam Islam, terdapat tiga hubungan persaudaraan manusia, yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antar umat Islam), ukhuwah wathaniah (persaudaraan antar satu bangsa), serta ukhuwah insaniah (persaudaraan antar seluruh manusia). Di dalam debat ini, terdapat dua cara pandang yang berbeda antara pihak pro dan kontra sementara mereka berdua tidak melihat dari sisi mana lawannya memandang. Pihak pro SKB melihat masalah SKB dari perspektif ukhuwah wathoniah, dimana kita, sesama manusia sebangsa, tidak sepatutnya saling menyakiti. Kita diberikan kebebasan berkeyakinan dan karena itu tidaklah benar jika kita disakiti karena kita memiliki perbedaan keyakinan. Pun pengikut Ahmadiyah sesat, mereka harus diajak berdialog secara terus-menerus untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Sementara pihak kontra memandang dari sudut pandang ukhuwah Islamiyah, dimana Ahmadiyah telah mengotori ajaran Islam dan menyebarkan racun ditengah-tengah masyarakat Islam yang menimbulkan terjadinya kerusakan aqidah umat Islam. Untuk itu, diperlukan tindakan sesegera mungkin guna mencegah Ahmadiyah menyebarkan ajaranya.
Pihak kontra selalu memberikan argumentasi seputar bukti-bukti sesatnya Ahmadiyah, mulai dari diakuinya Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, ataupun kitab Tazkirah yang dianggap kitab suci oleh Ahmadiyah. Pihak ini selalu menggebu-gebu menyuarakan kata sesat kepada Ahmadiyah dan menghendaki Ahmadiyah dibubarkan. Mereka terus-menerus berargumentasi seputar aqidah Islam yang telah dirusak oleh Ahmadiyah. Sementara pihak pro selalu berargumentasi tentang masalah SKB yang sudah tepat diterapkan, karena SKB tidak merugikan pihak manapun. Pihak pro tidak samasekali memperdebatkan masalah aqidah karena, disamping pihak pro memang memiliki aqidah yang sama seperti kita dan tidak mengakui kebenran Ahmadiyah, masalah yang dibahas dalam debat kali ini bukanlah tentang masalah sesatnya Ahmadiyah, melainkan masalah SKB saja. Meskipun demikian, pihak pro sepertinya salah langkah. Mereka akhirnya ikut pula membahas masalah kesesatan Ahmadiyah melalui argumentasi-argumentasi yang semakin ngawur. Mengingat lawan mereka adalah orang ahli agama, pastinya pihak pro kalah argumen dengan pihak kontra. Disitulah lucunya.
Terlepas dari pihak manapun, menurut saya terdapat beberapa hal yang aneh dalam perdebatan ini:
Pertama, cara pandang pihak kontra. Saya berpendapat bahwa mereka kurang cerdik memandang case yang disinggung pada debat kali ini. Kenapa pada debat itu mereka selalu dan hanya membuktikan bahwa Ahmadiyah itu sesat? Kenapa mereka selalu saja memberikan pernyataan-pernyataan yang menekankan pada kesesatan Ahmadiyah dan bukannya memberikan pernyataan seputar SKB yang menjadi kasus pada debat ini, padahal pihak pro pun memiliki aqidah yang sama dengan mereka? Pernyataan pihak kontra seolah-olah telah out of case dan tidak lagi memahami tentang apa yang sedang diperdebatkan di sini. Mungkin harus dijelaskan bahwa debat ini bukanlah debat yang membahas mengenai kesesatan Ahmadiyah, tetapi debat mengenai SKB yang baru saja dikeluarkan pemerintah. Seandainya mereka memberikan argumentasi-argumentasi yang lebih mengena dan berhubungan dengan SKB, pastinya debat ini akan menjadi lebih baik.
Kedua, tingkah-laku para pendukung pihak kontra menurut saya kurang mencerminkan sikap manusia yang sedang berjihad melawan kesesatan. Mengapa? Karena saat mereka meneriakkan “Allahhuakbar” sempat saja ada dari pihak mereka yang tertawa kecil, “cengar-cengir” bahasa gaulnya. Apakah sikap ini pantas dilakukan? Bukankah kesan yang didapat orang awam akan berubah setelah melihat peristiwa ini? Orang-orang yang “cengar-cengir” tadi seolah hanya bemain-main dan ingin membuat “heboh” di televisi. Mereka tidak secara penuh sadar akan apa yang sedang dibelanya. Belum lagi perintah “Allahuakbar” yang diucapkan ada juga yang memotong pembicaraan pihak pro, seakan-akan mereka hanya bercanda saja. Sayang, padahal kalimat “Allahuakbar” pantasnya diucapkan secara penuh kesadaran, ketegasan, dan khidmat yang dalam.
Ketiga, pertanyaan dari pihak pro yang bertanya kepada pihak kontra tentang seberapa jauh mereka mengenal Ahmadiyah nampaknya sedikit lucu, mengingat pertanyaan ini pun sedikit out of case. Untuk apa pertanyaan ini dilontarkan, yang kemudian menjadi senjata makan tuan untuknya dan memang tidak berhubungan dengan apa yang sepanjang debat mereka nyatakan.
Keempat, pernyataan dari pihak pro yang seakan-akan menentang pihak kontra untuk berargumentasi masalah aqidah Islam. Untuk apa ini dilakukan? Bukan kapabilitas mereka untuk berargumentasi masalah ini. Dan pastinya, mereka pun kalah argument dengan pihak kontra.
Begitulah, keanehan-keanehan diatas tidak lain tidak bukan hanyalah sebuah analisis dari saya. Tentang benar-atau tidaknya, kita serahkan kepada Allah. Bagaimanapun, malalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan agar kita belajar untuk lebih dewasa dalam bersikap baik itu ketika kita berdebat, maupun saat kita benar-benar beraksi dalam kehidupan nyata. Jaga emosi, terus perbaiki dan bentengi aqidah kita dari berbagai macam godaan yang tidak akan pernah habis berkunjung.
Semoga bermanfaat.



0 comments:
Post a Comment