Saturday, July 12, 2008

The Theory of Comfort

Ini adalah sebuah teori ilmiah yang sangat dahsyat. Dahsyat bagi saya, tidak tahu bagi kamu. Pertanyaan awalnya adalah, mengapa saat kita berkendara motor, kecenderungannya adalah kita selalu ingin menyalip kendaraan di depan kita yang kita rasa berjalan lambat?

Yeah, I know i'm not really good in carrying this topic, but, heumm.. let's talk about it. Saya berpikir, apa alasannya kita ingin menyalip orang saat berkendara motor? Bahkan saat kita tidak sedang terburu-buru, kita pun sering menyalip sana sini. Tetapi, di saat yang lain, kita pun tidak keberatan jika kita disalip orang lain. Lalu, untuk apa kita menyalip kendaraan kalau bukan untuk menjadi yang terdepan? Kasusnya bukan hanya itu. Contoh, saat kita belajar menjelang ujian. Pastinya porsi belajar kita bebeda-beda, dan berapapun waktu yang kita habiskan atau seefektif apapun hasil belajar yang kita peroleh, apa kita akan terlalu mempermasalahkan hal itu? Maksud saya begini, saat kita telah merasa cukup akan apa yang telah kita pelajari menjelang ujian, terlepas dari bagaimana hasil ujian nanti, kita akan merasa puas sesaat. Begitu pun dengan kasus berkendara motor.

Berdasarkan pengalaman serta pendapat saya, ternyata masing-masing orang memiliki tingkat kenyamanan berbeda-beda dalam berkendara motor. Mungkin, saya sebagai anak muda, baru merasa nyaman ketika sanggup menggeber motor saya hingga kecepatan 70-80 km/jam. Sebelum kecepatan itu terpenuhi, saya akan terus menyalip orang di depan saya saat ada kesempatan. Namun, ketika kecepatan itu telah berhasil saya capai, maka kalaupun ada orang yang menyalip, tidak masalah. Berbeda dengan ibu saya yang ketika naik mobil pun, kecepatan nyaman bagi beliau adalah 60 km/jam.

Lain lagi. Mengapa banyak mahasiswa pintar Indonesia yang sehari-harinya selalu belajar dan belajar? Berbeda dengan saya yang, bahkan jika ada ujian, tidak terlalu memaksakan diri untuk belajar. Ini mungkin hal lain tentang comfort, keyamanan. Bagaimna bisa kita membiarkan hati kita terus meringis untuk medapatkan apa yang kita inginkan. Pastinya kita akan memberikan apa yang hati kita inginkan. Which means, selama kita belum puas belajar, pasti kita akan terus belajar.

Pemikiran ini terus membawa imajinasi saya kepada masalah yang lebih besar : Korupsi. Mungkin, tingkat kepuasan orang-orang dalam memiliki harta pun berbeda-beda. Bagi para koruptor, mungkin mereka belum puas jika belum memiliki sejumlah uang. Milyaran? Trilyunan? Whatever. Mungkin hal ini yang menyebabkan mereka akan melakukan segala cara demi mencapai tigkat kenyamanan memiliki harta sesuai dengan yang mereka inginkan. Berarti, para koruptor tidak akan berhenti korupsi hingga mereka puas dengan harta yang telah ditimbunnya. Jadi, sampai kapan?

Apa sebenarnya yang membuat hal ini begitu beragam? Mengapa setiap manusia berbeda-beda? Ternyata banyak faktor yang kita semua juga sudah pasti tahu seperti faktor lingkungan, pergaulan, bla bla bla.. Apapun itu, ada faktor lain yang saya pikir cukup signifikan pengaruhnya. Apa? Faktor itu adalah kebiasaan. Yeah, I know you know. However, just think about it! Thanks.


-don't bet our children with bad habits in hope that someday, they will know which is right or wrong by themselves-

1 comments:

erain406 said...

-don't bet our children with bad habits in hope that someday, they will know which is right or wrong by themselves-

Pertanyaannya,
bagaimana mengubah kebiasaan buruk itu?
Apalagi dengan keadaan diri kita yang lahir di tengah-tengahnya...