Terlalu mudah untuk kami, para mahasiswa fasilkom untuk menyuburkan budaya Copy Paste. Bagaimana tidak? Setiap tugas yang diberikan berupa soal membuat program yang dibuat dalam bentuk soft copy dan dikumpulkan pula dalam bentuk soft copy. Saya dengan mudah dapat mendapatkan nilai 100 hanya dengan memasukkan flashdisk ke komputer sebelah, CTRL+C, CTRL+V.
Ataupun meminta sourcecode melalui meebo atau YM dengan cara yang sama.
Terlalu sering saya mencontek ataupun meng-copy program milik orang lain. Sebenarnya, para dosen maupun asdos pasti megetahui budaya yang secara turun-temurun mencoreng budaya akademis indonesia. Mencoreng etika berkarya mahasiswa Indonesia. Namun, apa daya? Budaya in tetap saja akan tumbuh subur berbarengan dengan “toleransi” para dosen ataupun “ancaman ” yang tidak pernah ditindaklanjuti. Sering saya melakukan praktik ini. Meng-copy program orang, memodifikasinya lalu mencantumkan nama saya sebagai pemilik program itu. Bagaimana hukumnya? Apa lantas saya puas dengan hasil ini? TIDAK! Itulah seabnya, mengapa saya berhenti. Lantas, apakah kita harus membuat program sendiri-sendiri tanpa bantuan orang lain? TIDAK! Disitulah fungsi teman. Teman bukanlah pihak ketiga yang membantu kita melalui copy-an program miliknya. Teman adalah orang yang memberikan pencerahan kepada kita tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Alternatif algoritma apa yang layak kita pakai untuk membuat sebuah program.
Terlalu banyak alasan yang digunakan oleh mahasiswa untuk membolehkan dirinya melakukan tindak copy-paste. Mengejar nilai, kepepet, tidak mengerti tugas kuliah, waktu yang diberikan sedikit, ataupun malas. Lantas, siapa yang salah? Mari kita lihat. Kuliah menuntut kita untuk selalu mendapatkan nilai yang bagus. Orientasi perkuliahan sendiri menuntut kita untuk memiliki IPK yang bagus. Beasiswa prestasi menghendaki kita selalu memperoleh IPK yang bagus. Bahkan matakuliah agama pun berorientasi pada nilai yang bagus, bukan akhlak apalagi iman. Tidak pernah disinggung unsur proses disitu. Yang dilihat adalah berapa IPK kita. Tidak pernah dibentuk suasana belajar yang menyenangkan dimana kita tidak perlu memikirkan nilai toh di sana kita akan banyak belajar. Selalu saja kita dibebankan dengan tugas yang menumpuk dengan materi kuliah segunung. Kondisi ini akan membuat mainstream berpikir kita selalu menomorsatukan nilai. Apa itu salah? Tidak! Karena lingkungan memanga menuntut kita begitu. Tetapi, dengan sistem ini, apakah lantas perbuatan copy-paste itu dosa? Tidak bolehkah kita meng-copy tugas orang lain? Bukankah proses tidak dinilai? Bukankah tidak masalah jika saya tidak mengerti? Yang penting nilai saya bagus? Bukan begitu?
Terlalu sedikit mahasiswa yang berpikir bahwa copy-paste akan merugikan diri mereka sendiri. Mengapa? Karena so far, copy-paste justru membantu mereka mendapatkan nilai bagus. Tanpa ada sanksi apapun. Dosen yang mengetahui praktik ini pun diam saja karena orientasi mereka pun sebatas nilai mahasiswanya. Mungkin ada unsur kasihan di sana. Namun, jika sistem atau orientasi belajar mahasiswa dibentuk bukan lagi untuk mengejar nilai melainkan ilmu, niscaya praktik ini akan hilang. Gengsinya tinggi, katanya.
Terlalu rendah skill saya untuk tidak melakukan copy-paste. Namun, apa yang saya yakini, bahwa semakin sering kita berlatih, maka kita akan semakin mahir. Terbukti! Paling tidak, saat ini saya tidak lagi copy-paste, mencoba berkarya sendiri. Untuk diri saya sendiri di masa datang. Karena saya tahu, kompetisi diluar sana sangatlah berat. Rasa percaya akan kemampuan seseorang sangatlah diperlukan. Tidak ada lagi toleransi untuk copy-paste. Tapi, kalau kepepet?
Saturday, November 8, 2008
Saya Muak Dengan Kopas
Posted by
muhammad mishbah
at
7:13 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



2 comments:
Bener banget, Bah... setuju gua...
Ctrl+c trus Ctrl+v gak ubahnya jalan pintas dapet nlai bagus tapi jadi 0 bahkan minus di hadapan Allah swt...
~Ami
BUkannya saudara misbah juga pelakunya ya?
Post a Comment