Sedikit mengenal Mishbah.
Tidak ada hal istimewa yang saya miliki. Saya hidup dalam belas kasih Allah. Entah mengapa terlalu banyak kasih-Nya yang diberikan pada saya. Saya hanyalah Mishbah, seorang pemuda biasa yang lahir dari rahim seorang manusia biasa pula. Hidup dan besar dalam keluarga yang biasa.
Inilah saya saat ini. Saat teman-teman saya satu-persatu pergi menimba ilmu di luar negeri, saya tetap berada di Indonesia. Saya ga lupa dengan kesuksesan dini yang dicapai teman-teman saya. Kinan yang ke Jepang ikut lomba. Essa yang ke Amerika, dilanjutkan Aidil dan Dinda. Berikutnya Teguh yang ke jepang. Belum lama Dini ke Jerman disusul Anjar. Terakhir Virgy yang ke jepang, dan sekarang Kukuh sedang menunggu waktu keberangkatan. Saya iri sama mereka. Yah, siapa yang ga pengen punya prestasi seperti itu? Well, saya yang selalu menggembor-gemborkan diri saya sendiri, belum mampu seperti itu. Saya malu. Heran? Ya saya pantas malu, mengingat saya bukan hanya tak berdaya melihat perkembangan teman-teman saya yang begitu dahsyat, tetapi saya pun tidak kunjung berkembang dengan pesat. Terlalu banyak waktu yang saya buang untuk hal-hal yang tidak berguna, kalau saya tidak salah. Bahkan, selama di Indonesia pun saya belum dapat memaksimalkan apa yang seharusnya saya kembangkan. Hah!
Kalau boleh saya menilik kembali kehidupan saya ke belakang, saya memang berasal dari sebuah keluarga yang sederhana, dengan pola pikir sederhana pula tentunya. Saya boleh jujur, saya dibesarkan di dalam lingkungan yang, boleh dikatakan, statis. Sewaktu kecil, saya tinggal bersama keluarga saya di dalam sebuah rumah milik yayasan tempat orang tua saya bekerja. Selama 14 tahun saya disana. Dan, selama saya disana, saya tidak sadar bahwa sesungguhnya saya kian tertinggal dengan teman-teman saya seangkatan. Tidak ada pergaulan! Tidak ada kesadaran! Saya hidup dalam dunia impian. Saya juga tidak akan pernah lupa tentang kenangan-kenangan menyakitkan yang saya alami ketika SD yang, tentunya tidak akan saya ceritakan di sini. Saya masih ingat bagaimana ketika saya dan mas Mun'im biasa tidur di atas karpet dengan kasur atau di atas sofa, ditemani dengan sepatu, sandal, dan terkadang tikus. Ya karena kami tidak punya kamar. Dan pengalaman tidur pun bermacam-macam. Well, kami punya pengalaman tersendiri dengan makhluk yang tadi saya sebutkan, kalau saya tidak salah, hihihi. Saya pun terbiasa dengan kegiatan-kegiatan rutin saat hujan: mengeluarkan air, menampung air hujan dengan ember (perlu dicatat, bahwa air hujan yang masuk rumah saya bukan air hujan biasa! melainkan air hujan yang telah bercampur aduk dengan debu, tanah, zat-zat aneh, dan kotoran dari genting! hihihi). Haha! I really thanks to ALLAH for His love to my family! Alhamdulillah, Allah mengaruniai diri saya dengan keluarga yang selalu berpikiran ke depan. Saya tahu bahwa orang tua saya selalu memikirkan yang terbaik untuk keluarga, terutama setelah ada Aziz. Pernah suatu ketika Bapa bicara dengan saya dan mas Mun'im, “nanti, kalau kamu sudah pada besar, mau tidur dimana lagi kalau kita ga pindah? Istri kamu mau tidur dimana?” well, meskipun saya harus menunggu hingga kelas 2 SMP, akhirnya kami pindah. Ke Radar, rumah kami sesungguhnya! pshaw!
Dengan menceritakan pengalaman tadi, bukan berarti saya hanya merugi selama 14 tahun. Terlalu banyak ilmu yang saya dapat dari kehidupan saya saat itu: Bagaimana saya dibesarkan dalam lingkungan pesantren. Saya sering diajak shalat jamaah dengan bapa saya (dan sering pula saya menjadi makmumnya, shalat tepat disampingnya, sementara santri-santri di belakangnya, laiknya imam kedualah! kalau saya tidak salah, hihihi). Saya juga telah terbiasa hidup prihatin, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, memenuhi yang perlu dan menahan yang tidak perlu. Saya biasa makan makanan tidak enak. Saya mengerti bagaimana memahami siapa diri saya, dan dalam posisi apa saya. Masa-masa itu pula yang merupakan awal saya mempelajari islam. Bagaimana saya diajarkan membaca Al-Qur'an, cara shalat yang benar, cerita-cerita Nabi, hadist-hadist, fiqih, fiqih wanita, wawasan tentang islam di Indonesia, doa-doa, para kyai, dan bahasa arab yang sangat susah. Saya tidak lupa betapa susahnya belajar Al-Qur'an. Betapa sulitnya melakukan gerakan shalat dengan benar. Bahkan, hingga sekarang, untuk dua urusan tersebut, tidak jarang saya menerima teguran. What a difficult! Well, tentunya bukan hanya ilmu agama saja. Saya pun diajar tentang bagaimana memahami diri kita. Tidak dengan teori pastinya! Orang tua saya selalu memberikan contoh tentang hal-hal yang pantas dilakukan dan tidak, sesuai level kami.
Tidak saya sangka, dari keluarga sederhana ini, saya mampu kuliah di UI! Saya bertemu dengan orang-orang hebat selama saya SMA, SMP, dan kuliah. Saya tidak pernah bermimpi bahwa saya bisa berteman dengan orang-orang yang telah saya sebutkan di awal tulisan! Saya tidak pernah membayangkan bahwa kini saya kuliah di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia sementara kelas 1 SMA saya tidak tahu cara berinternet! Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya ber”jaket kuning” sementara bahkan kelas 3 SMA saya ragu bahwa saya telah mengenal 2 sistem operasi.
Well, bertentangn dengan tulisan di awal ya? Bukan begitu!
Saya mengetahui bahwa kini, seharusnya, saya mampu berkembang dan bersaing dengan teman-teman saya yang lain. Inilah yang mengganggu pikiran saya! Saya bersyukur atas apa yang saya peroleh hingga saat ini, sangat bersyukur! Tidak kurang suatu apapun! Tetapi, saya pun merasa kurang dapat memanfaatkan nikmat Allah itu dengan baik! Kelebihan-kelebihan yang ada dalam diri saya, belum mampu saya kembangakan! Betapa bodohnya diri saya. Saya terlena oleh keenakan selama ini. Jadi ingat film Tsubasa. Misaki di Prancis, Wakabayasi di Jerman, Hyuga ke Italy. Eh, akhirnya, setelah lebih lama menunggu, akhirnya Tsubasa cabut juga ke Brazil. Well, gw pun yakin suatu saat nanti, setelah penantian yang cukup, pasti saya diberikan kesempatan untuk mengembengkan diri di luar negeri. Kini saya tahu, bahwa ini adalah awal dari hidup saya sendiri. Hidup saya sekarang adalah penentu hidup saya yang akan datang. Jaminan itu tidak lagi datang dari orang tua. Well, berubah! Saya telah berbicara. howgh!


