Friday, July 18, 2008

Rasa Syukurku Memuncak Malam(Pagi?) Itu

Jum'at 18 Julli 2008 , 02.00.
Sebenarnya pengalaman pulang malam tidak hanya kali ini saya alami. Karenanya, saya sudah siap dan sudah tahu jalan alternatif ke kost-an karena pintu UI pasti ditutup.

Saya sudah tahu bahwa Margonda sangatlah indah di malam hari. Terlebih sepagi ini, saat tidak banyak mobil yang melintas. Jam saat udara jalan Margonda Raya terasa sejuk. Jam saat kita wajib memakai jaket dan sarung tangan saat mengendarai motor. Dingin.

Malam itu, Margonda terlihat sangat istimewa buat saya. Saya melewati beberapa orang luar biasa. Tukang ketoprak yang entah baru pulang atau hendak berangkat. Kedai pecel lele pinggir jalan yang sempat saya mengobrol dengan mereka. Orangtua-orangtua yang masih mengobrol di depan pagar kios toko. Bahkan polisi yang sempat menakut-nakuti saya dengan suara sirine mobil serta klakson yang terus-menerus di dengungkan di belakang motor saya. Iseng mungkin. Saya pun bertemu dengan beberapa anak muda menyeramkan yang cukup menggetarkan hati saya. Mengapa? Mereka berkumpul di lampu merah saat kebetulan saya mendapat lampu merah. Mereka berkeliaran di tengah jalan raya. Takut kalau mereka tiba-tiba menyerang. Tapi, tidak terjadi apa-apa.

Berkendara motor di Margonda malam hari seperti bermain grand turismo. Jalan itu begitu nyata. Terlihat semuanya, tidak tertutup truk atau tumpukan motor di lampu merah. Semua marka jalan terpampang jelas. Rambu-rambu pun sangat terang dengan daylight fluorecent pigment yang melapsinya. Aspalnya pun bagus. Dikanan-kiri jalan hidup pepohonan dengan anggun. Terkadang ada kios-kios tutup dengan lampu remang-remang di depannya. Ada beberapa pedagang kaki lima yang masih buka, meski penjualnya tidur. Ada pula beberapa tukang ojek di sepanjang jalan dengan mata terpejam, tergeletak di atas motor mereka. Selain itu, tidak ada penghalang jalan, saya melaju dengan gagah. Belokan-demi belokan saya lewati dengan penuh gaya, ala Moto GP. Norak.

Sepanjang perjalanan saya hanya bisa bersyukur, sembari merenung atas segala nikmat yang Allah beri. Mata ini yang tetap sigap saat berkendara, agar tidak nabrak katanya. Badan ini yang kuat setelah baru sembuh dari sakit. Mental ini yang cukup berani dan sabar berpapasan dengan gerombolan anak muda dan polisi. Motor yang sangat membantu, tidak rewel, tidak kempes. Sarung tangan dan jaket yang sangat melindungi. Helm yang ampuh mengusir polisi. Serta pikiran ini yang terus merekam hal demi hal yang membuat saya langsung menulis tulisan ini.

Melihat gerombolan anak muda berkeliaran malam-malam, saya bersyukur karena saya berkeliaran untuk membantu teman. Melihat tukang ketoprak yang sedang mendorong gerobaknya saya bersyukur karena saya bisa kuliah di UI dan mendapat beasiswa. Melihat warung pecel lele saya bersyukur karena orangtua saya tidak sampai sebegitu malamnya bekerja. Melihat tukang ojek tergeletak saya bersyukur karena masih ada kasur yang menunggu saya di kost-an. Melihat kaki lima saya bersyukur karena saya adalah pembeli, bukan penjualnya. Ketika sadar saya masih berani menulis tulisan tentang rasa syukur, katanya, saya bersyukur karena, well, yah tidak ada alasan apapun. Thx Allah.

Wednesday, July 16, 2008

Gelegar lagu Geby

Tidak usahlah saya menjelaskan asal usul lagu Geby. Sudah banyak yang tahu tentangnya. Saya berpikir suatu hal saat suatu sore saya menonton sebuah acara infotainment di tv. Begini bunyi kalimat yang membuat saya kritis: “lagu Geby yang beberapa waktu belakangan ini heboh di dunia internet bla..bla...”

Mungkin benar, di dunia internet lagu Geby sedang terkenal. Namun, ada hal lain yang membuat Geby semakin terkenal di masyarakat: media infotainment. Menurut saya, Geby tidak akan menjadi terlalu heboh jika media infotainment yang kehabisan ide tidak meng-expose-nya. Terang saja, menurut saya, lagu Geby tidak terlalu istimewa. Nadanya tidak terlalu bagus. Lagipula, perbincangan di internet pun hanya sebatas forum-forum biasa saja seperti Kaskus dll. Hanya karena mungkin, menurut isu provokatif sebagian orang, liriknya menceritakan tentang kisah seorang gadis yang ditinggal mati kekasihnya. Sehingga seolah lagu ini menjadi sangat valuable. Sekarang, bermunculan orang-orang sakti yang mengaku pemilik lagu Geby. Macam-macamlah, sampai ada yang mengaluarkan bukti berupa lirik tua yang dibuat tahun 2005. Lebih-lebih, Roy Suryo ikut diajak nimbrung. Kata orang tv, Wah, bisa tambah rame nih, acara laku, rating naik deh.

Inilah salah satu cara infotainment membangun opini publik. Licik. Mereka dengan seenak-enaknya membangun pemikiran kita ke sebuah skenario yang mereka susun. Setuju tidak? Terserah. Menurut saya, ini tidak lain hanyalah “kerjaannya” orang-orang infotainment untuk menaikkan rating mereka. Bingung dengan berita yang “itu-itu saja”, infotainment melebarkan sayapnya dengan mencari berita jenis baru. Diangkatlah kasus Geby, dari internet katanya. Dibuat pula sebuah skenario pembangunan arus berpikir masyarakat agar tetap penasaran mengkuti berita Geby. Pelan-pelan dibangun, pelan-pelan masyarakat dibuat penasaran untuk tetap mengikuti acara mereka. Untuk apa? Untuk meraih rating yang tinggi, untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Jangan mudah tertipu. Coba kita telaah kembali, seberapa pentingkah berita Geby ini untuk secara terus-menerus diperbincangkan? Setelah tahu, lalu apa? Cukup tahu saja tidak cukup? Infotainment kita tidak kreatif. Oh, atau bahkan, pemberitaan lagu Geby mereka anggap kreatif? Pembodohan masyarakat mereka anggap kreatif?

Sebenarnya, tidak hanya kasus Geby, banyak kisah-kisah lain yang benar-benar memperlihatkan betapa kita sedang dibodohi oleh infotainment. Boleh mereka berdalih bahwa infotainment itu sangat diperlukan sebagai media antara artis dengan penggemarnya. Tapi, jangan lantas infotainment justru membodohi masyarakat. Jangan lantas menyuapi arus berpikir masyarakat demi memperoleh keuntungan semata.

-mungkin kalian menganggap bahwa tulisan ini pun sebenarnya turut meramaikan perbincangan Geby. However, that’s not a problem, I just analyzed-

Saturday, July 12, 2008

The Theory of Comfort

Ini adalah sebuah teori ilmiah yang sangat dahsyat. Dahsyat bagi saya, tidak tahu bagi kamu. Pertanyaan awalnya adalah, mengapa saat kita berkendara motor, kecenderungannya adalah kita selalu ingin menyalip kendaraan di depan kita yang kita rasa berjalan lambat?

Yeah, I know i'm not really good in carrying this topic, but, heumm.. let's talk about it. Saya berpikir, apa alasannya kita ingin menyalip orang saat berkendara motor? Bahkan saat kita tidak sedang terburu-buru, kita pun sering menyalip sana sini. Tetapi, di saat yang lain, kita pun tidak keberatan jika kita disalip orang lain. Lalu, untuk apa kita menyalip kendaraan kalau bukan untuk menjadi yang terdepan? Kasusnya bukan hanya itu. Contoh, saat kita belajar menjelang ujian. Pastinya porsi belajar kita bebeda-beda, dan berapapun waktu yang kita habiskan atau seefektif apapun hasil belajar yang kita peroleh, apa kita akan terlalu mempermasalahkan hal itu? Maksud saya begini, saat kita telah merasa cukup akan apa yang telah kita pelajari menjelang ujian, terlepas dari bagaimana hasil ujian nanti, kita akan merasa puas sesaat. Begitu pun dengan kasus berkendara motor.

Berdasarkan pengalaman serta pendapat saya, ternyata masing-masing orang memiliki tingkat kenyamanan berbeda-beda dalam berkendara motor. Mungkin, saya sebagai anak muda, baru merasa nyaman ketika sanggup menggeber motor saya hingga kecepatan 70-80 km/jam. Sebelum kecepatan itu terpenuhi, saya akan terus menyalip orang di depan saya saat ada kesempatan. Namun, ketika kecepatan itu telah berhasil saya capai, maka kalaupun ada orang yang menyalip, tidak masalah. Berbeda dengan ibu saya yang ketika naik mobil pun, kecepatan nyaman bagi beliau adalah 60 km/jam.

Lain lagi. Mengapa banyak mahasiswa pintar Indonesia yang sehari-harinya selalu belajar dan belajar? Berbeda dengan saya yang, bahkan jika ada ujian, tidak terlalu memaksakan diri untuk belajar. Ini mungkin hal lain tentang comfort, keyamanan. Bagaimna bisa kita membiarkan hati kita terus meringis untuk medapatkan apa yang kita inginkan. Pastinya kita akan memberikan apa yang hati kita inginkan. Which means, selama kita belum puas belajar, pasti kita akan terus belajar.

Pemikiran ini terus membawa imajinasi saya kepada masalah yang lebih besar : Korupsi. Mungkin, tingkat kepuasan orang-orang dalam memiliki harta pun berbeda-beda. Bagi para koruptor, mungkin mereka belum puas jika belum memiliki sejumlah uang. Milyaran? Trilyunan? Whatever. Mungkin hal ini yang menyebabkan mereka akan melakukan segala cara demi mencapai tigkat kenyamanan memiliki harta sesuai dengan yang mereka inginkan. Berarti, para koruptor tidak akan berhenti korupsi hingga mereka puas dengan harta yang telah ditimbunnya. Jadi, sampai kapan?

Apa sebenarnya yang membuat hal ini begitu beragam? Mengapa setiap manusia berbeda-beda? Ternyata banyak faktor yang kita semua juga sudah pasti tahu seperti faktor lingkungan, pergaulan, bla bla bla.. Apapun itu, ada faktor lain yang saya pikir cukup signifikan pengaruhnya. Apa? Faktor itu adalah kebiasaan. Yeah, I know you know. However, just think about it! Thanks.


-don't bet our children with bad habits in hope that someday, they will know which is right or wrong by themselves-

Kepuasan

Mungkin, bagi bang Jablay, kepuasan adalah saat melihat motor saya yang dicucinya mengkilap tanpa noda. Mungkin, bagi mpo Ani, kepuasan adalah saat melihat saya membawa piring nasi uduknya kembali dengan tanpa sisa apapun. Mungkin, menurut Wandi, kepuasan berarti saat bisa meninggalkan kost-an dengan keadaan rumah kost yang rapi, bersih, sudah dipel. Mungkin, menurut mas Budi, kepuasan berarti makan nasi lauk ayam hasil dari kerjaannya sendiri selama seharian. Mungkin, menurut mas Herdis, kepuasan berarti saat tulisannya berhasil dimuat di Kompas. Mungkin, bagi mas Iyus, kepuasan berarti saat dapat memberikan bantuan bagi orang-orang di sekelilingnya. Mungkin, bagi mas Akmal, kepuasan berarti saat berhasil memainkan remot control barunya. Mungkin, menurut Ating, kepuasan berarti saat bisa menengguk air es malam hari. Mungkin, bagi mas Khalid, kepuasan berarti saat bisa menemukan Linux versinya sendiri. Mungkin, bagi mas Tino, kepuasan berarti saat bisa pulang kerja siang hari. Mungkin, bagi mas Haris, kepuasan berarti saat bisa bolos kerja. Mungkin, menurut mas Gustami, kepuasan berarti saat diterima kerja dan diizinkan bekerja oleh kedua orang tuanya. Mungkin, menurut mas Afat, kepuasan berarti saat bisa nonton konser GIGI setelah mendengar kabar Inter Milan menang. Mungkin, menurut mas Say, kepuasan berarti saat bisa bermain bass sendirian tanpa gangguan. Mungkin menurut mas Said, kepusan berarti saat lulus menjadi sarjana. Mungkin, menurut mas Arif, kepuasan berarti saat kerja praktik selesai. Mungkin, menurut Naruse, kepuasan berarti saat bisa berinternet ria tanpa batas.

Mungkin, menurut Dinda, kepusan berarti saat berhasil masuk FK. Mungkin, bagi Icha, kepuasan berarti saat IP-nya bisa naik. Mungkin, bagi Lala, kepuasan berarti saat Suma berhasil terbit dengan kontribusinya di sana. Mungkin, menurut Essa, kepuasan berarti saat berhasil lulus jadi dokter. Mungkin, menurut Ichi, kepuasan berarti saat bisa jalan dari rumahanya kerumah saya selama 15 menit. Mungkin menurut Hadiid, kepuasan berarti saat berhasil menjadi lebih baik dalam menjalani hidupnya.

Mungkin, menurut mama, kepuasan berarti saat berhasil memberi makan anak-anaknya sampai kenyang tanpa komentar. Mungkin, bagi bapa, kepuasan berarti saat berhasil mengalah dengan saya perihal siapa yang pakai motor biru. Mungkin, menurut mas Mun’im, kepuasan berarti saat saya yang nyuci piring dan masukin motor. Mungkin, menurut Aziz, kepuasan berarti saat berhasil menyelesaikan game Warcraft.

Mungkin, bagi Frans, kepuasan berarti saat berhasil ngulik lagu tiga biji. Mungkin, menurut Tangguh, kepuasan berarti saat berhasil ketiduran saat rapat. Mungkin, menurut Irwan, kepuasan berarti saat berhasil terus bergerak dan berkontribusi. Mungkin, menurut Faizal, kepuasan berarti saat bisa menjad dokter dan menemukan obat kanker. Mungkin, menurut Toufiq, kepuasan berarti saat dia menemukan orang yang lebih baik dari dia.

Mungkin, menurut mereka begitu. Tapi, bagi saya kepuasan adalah saat saya bisa membuat senang orang-orang yang saya sayangi.