Tuesday, November 25, 2008

Bisa karena “BISA!”

Bisa karena “BISA!”
Oleh Muhammad Mishbah



Kesuksesan tidak hadir dengan sendirinya. Ibarat memetik buah rambutan, sukses pun harus dijemput. Pengorbanan demi pengorbanan harus kita lakukan untuk mendapatkan sukses yang kita mau. Tentunya, kesuksesan yang diimpikan oleh setiap orang berbeda-beda. Namun, apapun jenis sukses yang kita mau, tetap harus dilakukan usaha-usaha maksimal untuk meraihnya. Thomas Sugiarto, Salah satu orang Indonesia yang telah mencapai tingkat kesuksesan luar biasa, menginginkan sebuah kesuksesan lebih yang lain dari apa yang telah ia alami hingga saat ini, yakni mencapai financial and time freedom pada tahun 2012 nanti

Keberhasilan pertama Thomas adalah ketika umurnya 10 tahun, dia berhasil berenang mencapai sampan setelah didorong ke laut oleh teman-temannya. Luar biasakah? Saat itu Thomas tidak bisa berenang! Didasari oleh kesadaran bahwa dirinya tergantung oleh irinya sendiri, alam bawah sadar Thomas telah memaksanya untuk berenang mencapai sampan, dsebelum akhirnya dia sadar bahwa “SAYA KOK BISA?”

Peristiwa itu benar-benar telah merubah Thomas Sugiarto menjadi seorang yang yakin bahwa apapun bisa ia lakukan, termasuk hal-hal yang sepertinya tidak mungkin. Tiga buah prinsip diterapkan Thomas dalam merajut kesuksesannya. Believing, Learning, dan Action. Tiga prinsip inilah yang secara panjang lebar beliau tuturkan di dalam buku “Your Great Success Starts from Now!” Terlihat sederhana memang, tetapi mulia.

Believing
Memupuk rasa percaya (believing) tidak sesulit membalik gunung. Ini hanyalah sebuah teknik autosugesti yang pada dasarnya bisa dilakukan oleh siapapun. Bagi Thomas, “Bila mengatakan TIDAK MUNGKIN, TIDAK MUNGKIN, dan TIDAK MUNGKIN, sebenarnya anda telah menutup semua kemungkinan untuk mencari jalan keluar”. Mengapa peryataan itu tidak dibalik menjadi “KENAPA TIDAK?” inilah prinsip Thomas dalam mempuk rasa percaya dalam dirinya. Beliau meyakini bahwa pikiran kita sangatlah mempengaruhi keyakinan kita. Ketika kita mengucapkan “yakin” atau “pasti bisa”, maka alam bawah sadar kita secara otomastis akan menyimpannya sebagai suatu kewajiban yang harus dikerjakan.

Memiliki mimpi yang tinggi dapat membantu kita meraih mimpi itu. Mimpi berbeda dengan hayalan. Dengan mimpi, sekali lagi, alam bawah sadar kita akan terus merekam mimpi itu untuk kemudian memupuknya dalam diri kita sehingga secara tidak sadar kita akan melakukan berbagai cara sehingga mimpi itu terwujud. Untuk apa takut bermimipi kalau toh tidak ada ruginya? Mimpilah setinggi-tingginya, dan yakin! Yakin bahwa mimipi itu akan menjadi kenyataan. Buatlah mimpi dengan visuaisasi yang jelas. Jangan abstrak. Kalu perlu, gambarkan mimpi itu sedetail mungkin. Buat visualisasi yang membuat kita merasakan bahwa mimpi itu benar-benar telah terwujud. Fokuslah terhadap apa yang telah kita cita-citakan. Beranilah untuk tetap fokus. Jangan mudah menyerah.

Hal-hal inilah yang dituliskan Thomas di dalam bukunya melalui sikap Believing. Di dalam buku ini, dibahas secara menyeluruh berbagai macam kekuatan serta bukti nyata tentang arti kepercayaan terhadap mimpi. Buku ini mengajak kita untuk menjelajah lebih dalam untuk mengenal dan memanfaatkan alam bawah sadar kita yang notabene lebih berpengaruh (meskipun seolah tidak terasa) terhadap pencapaian mimpi-mimpi kita.

Learning
Belajar untuk berani, belajar untuk melawan rasa takut. Thomas menuturkan, ketakutan di dalam jiwa manusia terbentuk di atas alam sadarnya. Padahal hakikatnya, kemampuan alam bawah sadar manusia jauh lebih besar jika kita bisa memanfaatkannya. Untuk melawan rasa takut, harus kita mulai dengan mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita tidak takut! Biarlah alam bawah sadar yang bekerja.

Belajar untuk terus memperbaiki diri. Setelah keyakinan dengan mantap kita tanamkan dalam hati, langkah selanjutnya adalah belajar untuk beraksi. Pupuk kebiasaan-kebiasaan baik yang akan memudahkan diri kita sendiri nantinya. Bertanggungjawab terhadap apa yang telah kita kerjakan. Belajar untuk membuat senang orang lain.

Di dalam bukunya, Thomas bercerita mengenai sebuah sifat yang mungkin sering dilupakan manusia pada umumnya, yakni sikap bertanggungjawab. Bagaimana kita seharusnya bertanggungjawab atas kesalahan yang telah kita kerjakan. Thomas berkisah mengenai sikap dia dan kawan-kawannya yang secara jantan menunggu seorang pelangggan hingga 6 jam tanpa makan untuk menyatakan permintaan maaf kepada klien karena secara tidak sengaja seorang teman Thomas mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan. Hal ini dilakukan atas dasar tanggung jawab. Inilah yang akan membuat diri kita menjadi terpercaya sehingga secara otomatis akan berdampak baik bagi diri kita.

Action
Tidak berguna Believing ataupun Learning tanpa Action. Untuk mencapai goal yang kita impikan, harus ada aksi yang dikerjakan. Aksi ini merupakan wujud akumulasi atas keyakinan(believing) serta pembelajaran(learning) yang selama ini telah kita lakukan. Tidak perlu menuggu lama untuk melakukan aksi. Tidak masalah apakah aksi itu seakan membuat kita jatuh sejatuh-jatuhnya. Karena kita telah mempunyai belief yang telah terintegrasi dengan sempurna bersamaan dengan tumbuhnya sikap learning kita.

Begitu pula Thomas menerapkan sikap ini dalam hidupnya. Beliau tidak ragu ketika mengambil keputusan dengan cepat. Terbukti ketika beliau dengan cepat memutuskan untuk pindah profesi dari penguasa perusahaan property menjadi agen asuransi dari nol. Bahkan ada satu profesi lagi yang beliau korbankan, yakni Ketua II bidang pelatihan dan Pendidikan di Asosiasi Real Estate Broker Indonesia DKI Jaya. Hal ini beliau lakukan semata-mata demi mimpinya yakni mencapai Financial and Time Freedom di tahun 2012.

Bagi Thomas, aksi berarti memanfaatkan segala sesuatu yang mungkin dilakukan, dalam kondisi apapun. Suatu hari, ketika Thomas sedang terbaring sakit di Singapura, Thomas masih sempat mengirimkan kepiting kepada seorang calon nasabahnya di Jakarta Selatan. Siapa yang menyangka bahwa calon nasabahnya ini kelak akan memberikan manfaat yang lebih tinggi nilainya ketimbang kepiting?


Buku 220 halaman ini disajikan dengan bahasa yang enak di telinga. Pembaca tidak perlu mengerut-ngerutkan dahi untuk mengerti isi dari buku ini. Menggunakan bebagai contoh nyata dalam setiap prinsip yang dia kerjakan, Thomas menyulap buku ini menjadi buku luar biasa yang lebih hidup. Setiap awal sub bab baru, disajikan tips-tips menarik yang membantu pembaca membangun karakter Believing, Learning, dan Action. Bahkan, melalui buku ini Thomas menantang setiap pembacanya untuk ikut terjun ke dalam dunia bisnis yang ia jalani.

Meskipun demikian, sebagai buku motifasi, seharusnya buku ini memiliki alur yang lebih jelas dimana bab-bab yang disajikan sesuai dengan isi dari bab tersebut. Terdapat beberapa ketidakkonsistenan dalam merangkai materi buku ini sehinggga membuat buku ini seolah-olah tidak memiliki alur yang pasti. Pada beberapa bagian, terdapat beberapa pengulangan materi yang tidak menutup kemungkinan akan membuat pembaca bosan. Tentunya hal ini adalah sebuah koreksi yang semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.






Judul : Your Great Success is Start from Now

Pengarang : Thomas Sugiarto
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2008
Tebal Buku : 220 halaman

Thursday, November 20, 2008

REPUBLIK KAUM MUDA, Menegaskan Komitmen Kepada Republik


kembali saya diberikan kesempatan untuk menghadiri diskusi Lingkar Muda Indonesia. diskusi kali ini bertema : REPUBLIK KAUM MUDA, Menegaskan Komitmen Kepada Republik. diskusi yang diadakan di gedung Kompas Gramedia pada tanggal 24 Oktober 2008 ini menghadirkan beberapa narasumber kondang semisal Rosiana Silalahi, Hery B. Priyono, Yudi Latif, dan Garin Nugroho. dan, diskusi ini dimoderatori oleh Effendi Ghazali.


sangat menarik pembahasan masalah yang disodorkan para pembicara. dimulai dari romo Hery, beliau bercerita mengenai suatu sistem perekonomian yang tercerabut. beliau menuturkan bahwa masalah ekonomi Indonesia saat ini bukanlah terletak pada ekonomi pasar, namun masalahnya adalah bahwa "ekonomi pasar yang berlaku dewasa ini adalah jenis ekonomi pasar yang tercerabut (disembedded)". - Hery B.Priyono untuk lebih lengkapnya, silakan kunjungi (akaldankehendak.com).




pembahasan diskusi dilanjutkan oleh Rosiana Silalahi yang berkisah bahwa sebenarnya, media di Indonesia bersifat sangat liberal dibandingkan dengan negara luar, termasuk Amerika. bayangkan saja, di Amerika, pidato Presiden harus disiarkan di Televisi dengan layar bersih. tanpa iklan atau banner apapun. tapi kenyataannya, di Indonesia, saat SBY pidato, banner berita tetap saja berjalan dengan santai di bagian bawah layar televisi. bukan hanya itu, acara-acara televisi yang disodorkan ke publik pun masih tergantung kepada rating. tidak ada unsur pendidikan di dalamnya. jam-jam/keluarga(19.00-21.00) sibuk selalu dipakai untuk sinetron. siaran berita atau pendidikan ditaruh pada bukan jam-jam sibuk atau jam keluarga.

diskusi dilanjutkan oleh Yudi Latif dan Garin Nugroho yang sayangnya, saya kurang mengerti tentang apa yang mereka bahas.

terlihat sangat sederhana tulisan ini. biarlah..

Saturday, November 8, 2008

Saya Muak Dengan Kopas

Terlalu mudah untuk kami, para mahasiswa fasilkom untuk menyuburkan budaya Copy Paste. Bagaimana tidak? Setiap tugas yang diberikan berupa soal membuat program yang dibuat dalam bentuk soft copy dan dikumpulkan pula dalam bentuk soft copy. Saya dengan mudah dapat mendapatkan nilai 100 hanya dengan memasukkan flashdisk ke komputer sebelah, CTRL+C, CTRL+V.
Ataupun meminta sourcecode melalui meebo atau YM dengan cara yang sama.

Terlalu sering saya mencontek ataupun meng-copy program milik orang lain. Sebenarnya, para dosen maupun asdos pasti megetahui budaya yang secara turun-temurun mencoreng budaya akademis indonesia. Mencoreng etika berkarya mahasiswa Indonesia. Namun, apa daya? Budaya in tetap saja akan tumbuh subur berbarengan dengan “toleransi” para dosen ataupun “ancaman ” yang tidak pernah ditindaklanjuti. Sering saya melakukan praktik ini. Meng-copy program orang, memodifikasinya lalu mencantumkan nama saya sebagai pemilik program itu. Bagaimana hukumnya? Apa lantas saya puas dengan hasil ini? TIDAK! Itulah seabnya, mengapa saya berhenti. Lantas, apakah kita harus membuat program sendiri-sendiri tanpa bantuan orang lain? TIDAK! Disitulah fungsi teman. Teman bukanlah pihak ketiga yang membantu kita melalui copy-an program miliknya. Teman adalah orang yang memberikan pencerahan kepada kita tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Alternatif algoritma apa yang layak kita pakai untuk membuat sebuah program.

Terlalu banyak alasan yang digunakan oleh mahasiswa untuk membolehkan dirinya melakukan tindak copy-paste. Mengejar nilai, kepepet, tidak mengerti tugas kuliah, waktu yang diberikan sedikit, ataupun malas. Lantas, siapa yang salah? Mari kita lihat. Kuliah menuntut kita untuk selalu mendapatkan nilai yang bagus. Orientasi perkuliahan sendiri menuntut kita untuk memiliki IPK yang bagus. Beasiswa prestasi menghendaki kita selalu memperoleh IPK yang bagus. Bahkan matakuliah agama pun berorientasi pada nilai yang bagus, bukan akhlak apalagi iman. Tidak pernah disinggung unsur proses disitu. Yang dilihat adalah berapa IPK kita. Tidak pernah dibentuk suasana belajar yang menyenangkan dimana kita tidak perlu memikirkan nilai toh di sana kita akan banyak belajar. Selalu saja kita dibebankan dengan tugas yang menumpuk dengan materi kuliah segunung. Kondisi ini akan membuat mainstream berpikir kita selalu menomorsatukan nilai. Apa itu salah? Tidak! Karena lingkungan memanga menuntut kita begitu. Tetapi, dengan sistem ini, apakah lantas perbuatan copy-paste itu dosa? Tidak bolehkah kita meng-copy tugas orang lain? Bukankah proses tidak dinilai? Bukankah tidak masalah jika saya tidak mengerti? Yang penting nilai saya bagus? Bukan begitu?

Terlalu sedikit mahasiswa yang berpikir bahwa copy-paste akan merugikan diri mereka sendiri. Mengapa? Karena so far, copy-paste justru membantu mereka mendapatkan nilai bagus. Tanpa ada sanksi apapun. Dosen yang mengetahui praktik ini pun diam saja karena orientasi mereka pun sebatas nilai mahasiswanya. Mungkin ada unsur kasihan di sana. Namun, jika sistem atau orientasi belajar mahasiswa dibentuk bukan lagi untuk mengejar nilai melainkan ilmu, niscaya praktik ini akan hilang. Gengsinya tinggi, katanya.

Terlalu rendah skill saya untuk tidak melakukan copy-paste. Namun, apa yang saya yakini, bahwa semakin sering kita berlatih, maka kita akan semakin mahir. Terbukti! Paling tidak, saat ini saya tidak lagi copy-paste, mencoba berkarya sendiri. Untuk diri saya sendiri di masa datang. Karena saya tahu, kompetisi diluar sana sangatlah berat. Rasa percaya akan kemampuan seseorang sangatlah diperlukan. Tidak ada lagi toleransi untuk copy-paste. Tapi, kalau kepepet?

Thursday, November 6, 2008

Perjuangan Bukan Sekadar Pembuktian

jelas memang sebagai mahasiswa Fasilkom, saya tidak ahli dalam masalah sosial. bukan ranahnya. tapi apa salahnya ketika saya berjuang lewat sebuah ajang kompetisi debat yang memaksa saya untuk menguras wawasan sempit ini untuk terlihat "luas"? tidak ada masalah.

terkadang, saya sering berpikir mengenai "salah jurusan", atau hal-hal lain yang anti-fasilkom. bukan saya saja, pasti banyak orang lain diluar sana yang juga berpikiran sama. pikiran atau lebih tepatnya perasaan salah jurusan itu datang dan tenggelam. terlalu banyak contoh dan alasan kuat yang membuat saya tetap bertahan di fasilkom. dan sedikit alasan untuk membuat saya hengkang. kebanyakan memang hanya alasan emosi sesaat tanpa melihat lebih jauh.

ada satu pelajaran berharga yang saya dapat ketika kemarin mengikuti olimpiade debat bahasa indonesia. apa yang saya rasakan saat itu adalah: "banyak orang diluar fasilkom yang sebenarnya menginginkan suatu perbedaan dari apa yang sering kita claim sebagai mahasiswa kutu buku, introvert, is fasilkom". pelajaran emas. ketika muncul sejumlah orang fasilkom yang mengambil jatah keilmuan mereka (ranah sosial misalnya), meskipun tidak dapat dipungkiri akan segala keterbatasan kami (saya) untuk membahasanya, mereka tertantang untuk mengalahkan kami. itu intinya! banyak orang diluar sana yang menganggap remeh kami. tapi, sejauh ini kami dapat membuktikan akan , yah, paling tidak, kami mengikuti berita. senangnya menjadi mahasiswa Fasilkom UI.

berbicara fasilkom, sekali lagi, tidak ada kesalahan bagi saya berkuliah di sana. ini adalah sebuah keputusan yang tepat dan berharga. kembali lagi, ada hal-hal prinsipil yang membuat saya selalu kerasan berada di sini. pertama, sumber daya manusia IT indonesia masih sangat minim. hal ini merupakan jaminan masa depan bagi saya meskipun tidak secara langsung. tetapi tunggu dulu, tidak principil ya? haha.. ada alasan lain, yakni banyak kawan-kawan IT yang tidak peduli dengan urusan politik. banyak kawan-kawan IT yang hanya bergelut pada wilayah teknis tanpa melihat latar belakang suatu hal yang akan atau sedang kita kerjakan. mungkin, kita tidak akan banyak berpikir atas alasan apa kita membuat suatu project? ada apa di balik itu?

selain itu, alasan lain adalah sudah terlalu banyak lulusan sosial yang dihasilkan Indonesia. terlalu banyak orang cerdas yang mengatur bangsa ini. tetapi, ada satu hal kronis yang tidak dipahami oleh para lulusan sosial itu, orang-orang pengambil kebijakan Idonesia: "kemjuan teknologi". sederhana saja, bukan?

terlalu abstrak untuk dijelaskan disini. terlalu kompleks pula apa yang saya pikirkan mengenai apa yang saya tulis di atas. tetapi, semoga bermanfaat