Tuesday, January 27, 2009

When You Act Like GOD is NOWHERE

I do believe in GOD. Am I? Why don’t you act just like you believe Him? Why should there are much moments when you get fail again and again? Is it really right when you say that everything you do, you do it for Him? Really appreciate that.

Remember one lyrics, “don’t bring 'God’s name' in the way you get my heart, just use 'love'.”

Even I do not really understand what God is. Well, I really aware about how narrow our mind. I hate human. I hate to be human. I even don’t have any strong faith in trusting Him.

Actually, I have a moment when I do believe in God. I realize how close Him to me, even closer than my artery. Even in my pray, when I faced the ground, I fell Him. I turn my head down, I feel Him. I close my eyes, I see Him. I know He is watching when I sleep. I know he is coming when I call Him. I just, super-duper-miss Him...

Again, I miss Him. I mean, I really miss Him. I don’t know where He is.

Again, I made a mistake. I acted like He was NOWHERE. I hate to be human. But I still would rather choose to be human rather than an ANGLE without any awareness of God.

Tuesday, January 20, 2009

hidup ni

Liberal kapitalis
Apa yang saya lakukan hanyalah untuk diri saya sendiri. Tidak peduli orang mau kaya apa, yang penting saya makmur, selamat, sejahtera. Apa yang akan saya lakukan jika nilai saya jelek? Jika saya tidak lulus matakuliah? Jika anak dan istri saya tidak dapat makanan?

Saya harus sadar bahwa tidak ada satu orang pun yang peduli dengan saya, dengan impian saya. Siapa orang di dunia ini yang ingin mengabulkan impian saya untuk memiliki mobil mewah? Rumah besar? Tidak ada. Tidak ada satu orang pun. Siapa pula yang ingin memberi contekan jawaban kepada saya sehingga nilai saya bagus? Semua perlakuan manis ketika belajar bersama, latihan bersama, berbagi ilmu, semuanya hilang. Karena toh, akhirnya, kita tidak bisa saling berbagi jawaban ketika sedang ujian.

Apakah ada orang yang peduli, maksud saya, benar-benar peduli, ketika saya sedang jatuh? Bukankah orang-orang itu sibuk memikirkan diri mereka masing-masing? Ketika saya tidak masuk kampus, adakah yang menanyakan keberadaan saya? Tidak sepertinya. Ketika ada orag lain yang tidak masuk, adakah orang yang menanyakanya? Tidak juga. Kita dituntut untuk belajar sendiri, mencari bahan sendiri, dengan alasan biar mandiri. Tidak ada orang yang mengingatkan, Karena kita sudah besar.

Kita harus berpikir bebas, sebebas-bebasnya, sesuka kita. Siapa yang mau atur? Mereka semua memikirkan diri mereka sendiri. Para mahasiswa memikirkan nilainya masing-masing, dosen memikirkan objekannya masing-masing, para professional memikirkan duitnya masing-masing, pejabat pemerintahan memikirkan prestise, gengsi, jabatan, perut, hartanya masing-masing. Jadi, sekarang kita harus berpikir bebas, luas, guna mencukupi kebutuhan kita sendiri.

Sadar bahwa setiap manusia memilki impiannya masing-masing, memiliki ambisinya masing-masing, cita-citanya masing-masing. Inilah ideology yang harus dimiliki oleh setiap manusia pada awalnya. Bahkan, untuk sekadar bertahan hidup, terkadang kita harus memakan daging kawan kita sendiri.

Apa ini kehidupan? Ketika kita sudah besar, kita harus berpandangan liberal kapitalis, dengan tidak perlu peduli terhadap orang lain demi mencapai tujuan kita.

Sosialis
Selalu memikirkan orang lain. Ketika semua yang kita inginkan telah tercapai. Apa yang selanjutnya ingin kita lakukan. Saya telah mendapatkan mobil mewah, rumah besar. Nilai bagus, matakuliah semuanya lulus. Lalu?

Saya sadar bahwa itu semua bukan murni semata-mata hasil jerih payah saya seorang. Banyak campur tangan pihak lain disana. Dan yang paling utama, campur tangan Allah. Saya juga sadar, bahwa apa yang telah saya dapat rasanya hampa jika tidak saling berbagi. Akhirnya, saya mulai ide itu. Saya mulai membagikan harta saya, kekayaan saya. Saya mulai berbagi jawaban kepada teman saya, bahkan mengajarkan mereka ketika ujian berlangsung. Rasanya indah sekali, dapat melihat orang lain bahagia.

Ya, semua orang di dunia ini tidak berhak untuk bersedih! Itu sudah pasti. Kita harus selalu berbagi, bahagia bersama. Apa yang saya dapat harus dibagi-bagikan kepada orang lain. Kemakmuran harus merata dinikmati oleh setiap orang. Perihal harta pribadi yang saya punya, itu masalah lain.

Tidak peduli lagi dengan keegoisan yang dahulu pernah hinggap dalam diri saya. Manusia memiliki hak hidup yang sama, tidak pandang bulu. Ketika ada orang miskin, harus kita bantu sehingga kemakmurannya seimbang dengan kita.

Hingga idealisme ini hancur, ketika saya sadar bahwa tidak ada unsur keadilan disini. Bagaimana mungkin semua orang mendapatkan kemakmuran yang sama, sementara mereka hanya malas-malasan? Semua orang harus berusaha! Akhirnya saya kembali menjadi kapitalis.

Hingga idealism ini pun hancur, ketika saya sadar bahwa pandangan ini hanya menjadikan manusia seperti binatang, yang hanya melakukan segalanya demi bertahan hidup, demi memuaskan nafsu. tidak memiliki akal yang sehat. Mungkin, lebih mulia binatang, karena mereka masih memiliki kasih dengan sejenisya, tidak seperti kita.

Untungya, saya masih memilki iman.