Tuesday, March 10, 2009

Biarlah Mereka Punya Motor

Pernah tidak situ lihat di jalan-jalan kota jakarta, betapa ramainya orang-orang berkedara motor? Motor-motor itu sangat padat. Apalagi kalau sedang berada di persimpangan lampu merah, tampak seperti para peserta lomba balap motor yang bersiap-siap melaju menjemput lampu hijau. Begitu lampu hijau menyala, laiknya gerombolan tawon yang datang menyerbu, motor-motor itu melaju cepet-cepetan dan jauh meninggalkan mobil di belakangnya. Tidak hanya lampu merah, saat jam pulang atau berangkat kantor, mana yang lebih banyak, motor atau mobil? Sepertinya motor sudah menguasai jalan raya ibukota.

Mereka terus saja membeli motor baru. Ketika ada motor versi terbaru, tanpa segan mereka langsung menjual motor lama untuk kemudian membeli yang baru. Apalagi tukang ojek. Seolah-olah ingin terus mengikuti perkembangan zaman, mereka berlomba-lomba kredit motor baru. Belum lunas kreditnya, sudah kredit motor baru lagi. Begitu seterusnya. Begitupun para pegawai kantoran, siswa, maupun mahasiswa. Seperti tidak kuat dengan ongkos angkutan umum yang selalu naik, mereka memilih untuk membeli motor ketimbang menghabiskan Rp 2000 untuk setiap perjalanan yang hanya berjarak 5 KM. Pantas saja, jumlah kendaraan roda dua di jakarta meningkat setiap harinya, dan jalanan pun akan semakin sempit terasa. Apalagi tanggung jawab pemerintah yang lambat melakukan pembangunan jalan serta infrastruktur lainnya, jalanan ibukota akan semakin padat.

Apakah mereka yang membeli motor peduli akan kepadatan lalu lintas? Daku rasa tidak. Untuk apa mereka peduli? Membeli motor adalah hak mereka. Sekaligus itu adalah sarana untuk meningkatkan derajat sosial mereka di masyarakat. Membeli motor berarti kesejahteraan mereka meningkat. Bukankah selama ini mereka hanya bisa merasakan padatnya angkutan umum? Selama ini mereka belum merasakan nikmatnya naik kendaraan roda empat pribadi. Apalagi pergi ke kantor di dalam ruangan 2x2 ber-AC. Ya ya, mungkin situ berpendapat bahwa yang membeli motor itu bukan semuanya orang golongan menengah ke bawah saja, ada juga konglomerat yang hobinya pakai motor. Atau, orang-orang menengah yang memang suka motor. Tapi coba renungkan, seberapa tingkat perbandingannya? Lebih banyak mana, motor atau mobil yang parkir di daerah-daerah kumuh sempit? Atau, apakah lebih banyak motor yang masuk garasi-garasi rumah-rumah di daerah komplek elit? Situ bisa menilai sendiri.

Biarlah mereka yang ingin membei motor, silakan membeli. Mereka yang memang butuh motor, silakan membeli. Tak perlu peduli dengan jalanan yang semakin ramai karenanya. Biarkan mereka menggunakan bahan bakar premium yang murah. Kalau mau menurunkan tingkat kepadatan lalu lintas, buatlah jalan raya yang lebih banyak. Atau, kurangi saja mereka-mereka yang selalu memakai mobil bahkan untuk perjalanan jarak dekat. Jangan melulu salahkan orang yang punya motor. Toh mereka yang punya motor baru saja merasakan kenikmatan menggunakan kendaraan pribadi.

Kalau mau bicara mengenai polusi udara, jangan pula menyalahkan para bikers. Bukankah mereka baru saja merasakan kenikmatan itu? Tidak sebanding jika kita melihat polusi udara yang dihasilkan kendaraan roda empat. Belum lagi polusi panas yang dihasilkan oleh AC serta Radio tape mobil. Siapa yang lebih pantas untuk berhenti berkendara, mobil atau motor?

Tunggu dulu, biar juga mereka yang ingin membeli mobil, silakan membeli, mereka yang suka dengan mobil baru, silakan membeli, silakan pakai. Jangan sungkan-sungkan. Lagipula, itu juga hak mereka. Silakan pakai mobilmu dengan AC sedingin-dinginnya. Atau silakan pakai motor sepuasmu berkendara. Tidak ada yang salah samakali. Yang salah adalah mereka yang berlebihan. Bukan hanya motor atau mobil, tapi siapapun yang berlebihan menggunakan bahan bakar minyak.

Friday, March 6, 2009

Mencari Jati Diri: Apakah Semua Merasakan?

perjalanan hidup punya berjuta lika-liku serta skenario yang luar biasa indah. ada kalanya orang berganti-ganti prinsip, berpindah lingkungan bergaul, mencoba macam-macam hal, bertindak ekstrim.

pernah suatu saat daku menuliskan surat sanggahan dengan begitu emosionalnya atas tulisan tentang 'kebangkitan nasional' yang menurut saya (hingga sekarang), teramat provokatif dan berpihak kepada satu golongan saja. lantas, apa kata kawan-kawanku yang mengetahui kelakuanku tadi? "Kamu sedang mencari jati diri, nak!"

beruntung memiliki kawan-kawan yang selalu mengingatkan, daku akhirnya mengerti. memang, daku saat itu terlihat sangat responsif terhadap apa yang bertentangan dengan kebenaran yang kuyakini. mungkin sebagai bentuk ekspresi atas pencarian jati diri daku yang sebenarnya, maka banyak hal-hal ekstrim yang daku perbuat ketika bersebrangan pendapat.

inilah nikmat yang tak mungkin kupingkiri, bahwa memang pencarian jati diri memakan waktu yang lama. meskipun daku begitu yakin bahwa semakin lama daku mencari, maka akan semakin matang daku memahami kehidupan.

semakin lama daku menelaah berbagai dinamika yang terjadi disekitar daku, semakin yakin daku akan apa yang selama ini kuyakini sebagai prinsip utama daku bersosialisasi: "perbedaan membuat segalanya indah. sikap memahami kebiasaan kultural serta kearifan budaya lokal, akan membuat dirimu memahami apa arti sebuah masyarakat yang sebenarnya."

dengan nikmat ini, daku sangat berterimakasih kepada Allah, Tuhan yang tiada dua-nya. apa yang saya alami sebagai pengembaraan menemukan jati diri seorang mishbah, belum tentu dirasakan oleh orang lain. daku tidak akan hanya terbawa arus yang melenakan. bahkan terhadap sesuatu yang untuk orang mayoritas dianggap sebagai sebuah kebenaran. cukup menyedihkan ketika melihat orang diluar sana yang hanya terbawa rayuan-rayuan surgawi tanpa dapat berpikir jernih, bahkan meng-klaim bahwa merekalah yang berpikir jernih. sedih melihat mereka yang bertindak tanpa berpikir, bersikap tanpa constraint yang jelas.

memang, dalam hidup, kita hanya diberikan pilihan-pilihan yang aneh.