Monday, June 30, 2008

Berjalan di Atas Bara

Berjalan, bukan berlari, berjalan di atas bara api yang membara. Aku takut. Baru pertama kali aku harus mengalami hal ini. Perasaan takut itu terus menggangguku, merayuku untuk tidak melanjutkan. Tapi, aku harus! Memang ini bukan sebuah kewajiban agama yang harus saya lakukan. Tapi, kali ini, tanpa alasan yang berarti, saya harus melakukannya. Pertama kali aku lihat bara itu, merah, hitam, menyinari malam. Angin malam meniupnya dan membuat api terbang ke udara. Bara itu berkelap-kelip merah-hitam seakan sedang berbicara betapa menakutkannya dia. Bagaimanapun juga, tumpukan bara sepanjang dua meter itu harus aku lewati, sekarang!

Bismillah. Aku jalan. Sempat terpikir sebelumnnya untuk memilih terlebih dahulu bagian bara mana yang ingin aku lewati. Tadinya, aku berniat untuk melewati bara yang mati saja. Bara yang tidak menyala, bara yang berwarna hitam. Mungkin, dengan begitu aku tidak akan merasakan panas. Tapi, nyatanya, tidak ada waktu untuk memilih. Bara itu terlalu menakutkan untuk membuat saya sempat mempertimbangkan hal yang cenderung tidak penting sejenis itu. Ah! Ini dia jawabannya! Bara ini adalah contoh nyatanya!

Mengapa kita cenderung takut menghadapi masalah? Masalah itu diciptakan untuk diselesaikan, bukan dihindari! Untuk apa kita mencari-cari celah agar kita terhindar dari masalah. Toh nyatanya, mengatasi masalah itu jauh lebih menyenangkan dan akan selalu membawa kebaikan. Tidaklah perlu kita mencari-cari bara hitam mati yang tidak membara jika ternyata memang melewati bara yang membara itu adalah keharusan.

Tidak bohong jika saya mengaku bahwa aku takut. Sempat terpikir olehku bagaimana nanti saat kita berada di jembatan Shiratal Mustaqim. Untuk melewati bara api ini saja, aku takut. Bagaimana nanti? Sanggupkah aku? Tapi, selanjutnya, setelah merasakan bahwa ternyata bara itu sanggup aku lewati, aku mulai tenang. Astaghfirullah. Bukan tenang, tapi sombong! Aku sombong! Baru saja merasakan “tidak panasnya” bara, aku sudah besar kepala dan dengan sombongnya menantang untuk melewati bara itu kembali. Aku tidak sadar bahwa sebenarnya bara itu panas. Tapi, karena kehendak Allah, aku dapat melewatinya dengan cepat sehingga terasa tidak panas. Allah-lah yang telah mengatur semuanya. Allah telah berkehendak bahwa semakin sebentar kita bersentuhan dengan sumber panas, semakin sedikit pula panas yang kita terima. Ini semua sudah ada yang mengatur. So, why did I still arrogant? Instead of saying alhamdulillah, I prefered to chellange it again. Whoah! Apakah hanya sampai disana niatku? Tidak adakah alasan yang lebih mulia dariku ketika melewati bara itu lagi? Mengapa niatku bukan untuk menunjukkan nikmat yang telah diberi oleh Allah kepadaku saat melewati bara itu, yakni dengan tidak membiarkan kalimat “ah, ternyata ga panas” melanglang buana dihatiku?

Sekali lagi kawan, janganlah kita sombong dengan apa yang telah kita raih, atau atas apa yang kita memiliki kelebihan terhadapnya. Sebenarnya, jika bukan karena Allah, kita tidak akan mungkin memperoleh apa yang kita nyatakan tadi. Apalagi, jika selanjutnya kita meremehkan hal itu dengan beranggapan bahwa kita menguasai segalanya. Tidak demikian kawan! Everything is Allah's!

Aku berjalan kembali diatas bara tanpa memilih-milih bara, tanpa takut akan panas, dan tentunya, dengan niat bersyukur atas kenikmatan yang Allah berikan saat aku berhasil melewati bara itu. Tanpa takut menghadapi masalah, tanpa sombong terhadap apa yang bukan kekuasaanku, tetapi dengan penuh harap akan keselamatan nanti saat melewati jembatan Shiratal Mustaqim. Wallahua'lam.

Friday, June 20, 2008

Kondisi Fasilkom Futuh

Fasilkom, kampus saya tercinta. Apa memang harus ada suatu kondisi futuh disini? Maksud saya, apa yang dimaksud dengan futuh di fasilkom? Apakah kondisi saat ini belum cukup dikategorikan sebagai kondisi futuh? Futuh itu menang. Lantas, apa yang harus kita menangkan disini? Apakah kedigdayaan Islam yang harus kita galakkan untuk mencapai kondisi futuh? Bagaimana? Bukankah saat ini kondisi fasilkom sangatlah baik bahkan tergolong indah? Bukankah keberadaan Islam di fasilkom saat ini telah mencapai suatu posisi yang istimewa? Baiklah, saya pahami bahwa kondisi futuh fasilkom adalah suatu kondisi dimana semua masyarakat fasilkom terkena berkah Islam yang memancar.

Saya mendambakan suatu kondisi futuh dimana segenap anggota keluarga fasilkom merasa nyaman, tentram, serta bersemangat dalam beraktivitas dikarenakan adanya Islam yang menjadi sebuah penyejuk kehidupan. Bukan hanya untuk orang Islam, tapi juga untuk orang non-Islam. Tidak perlu kita tegakkan hukum Islam, tetapi kita terapkan nilai-nilai islam di sini. Tentunya nilai-nilai Islam yang dapat dinikmati oleh segenap warga fasilkom. Tunjukkan bahwa Islam telah menang dalam membangun masyarakat Fasilkom yang beradab. Misal, saling meyapa dan memberi salam ke semua orang yang kita jumpai di fasilkom, ataupun saling menasehati jika ada kawan kita yang berbuat curang saat ujian.

Saya ingin kondisi futuh yang, jika saya berdiri di tengah sekre square, dan saya menyapa semua orang yang ada disana, maka mereka akan menjawabnya sambil tersenyum.

Islam telah mengajarkan bahwa kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada orang lain. Karena itu, saya mendambakan masyarakat fasilkom yang saling menghargai antar sesama sehingga tercipta suatu kerukunan. Kerukunan umat beragama dimana antar dua individu berbeda agama tetap dapat berhubungan dengan baik, karena kita memahami betul makna lakum diinukum waliyadiin.

Saya mendambakan kondisi fasilkom futuh yang anti sektarian, dimana anak-anak FUKI (baca: rohis) tetap dapat memberikan manfaat ke semua warga fasilkom, bukan hanya kepada warga Islam fasilkom. Kondisi dimana kita tidak dapat dipecah-belah oleh siapapun, karena kita satu, fasilkom, dan tentunya, diwarnai oleh nilai-nilai Islam yang luhur.

Saya mendambakan kondisi fasilkom futuh yang paham, bahwa kita hidup di bawah satu payung, fasilkom. Dan karena itu, saya, orang Islam, harus dapat bekerjasama guna mencapai kondisi fasilkom yang nyaman. Kondisi yang membuat kita merasa benar bahwa fasilkom adalah tempat yang tepat untuk membangun diri.

Kondisi futuh fasilkom saya dambakan sebagai kondisi yang paling nyaman bagi kita semua atas nilai-nilai Islam yang dapat diterima oleh seluruh warga fasilkom dengan senang hati.

Thursday, June 12, 2008

Debat SKB Tiga Menteri

Malam ini, 11 Juni 2008, saya menyaksikan debat masalah Surat keputusan Bersama Tiga Menteri terkait masalah penodaan Agama Islam oleh Jamaah Ahmadiyah Indonesia. Sedikit serius sepertinya. Nyatalah, memang perdebatan ini menurut saya perlu untuk kita cermati bersama. Saya awali tulisan kali ini dengan penggambaran situasi debat saat itu.

Debat ini adalah debat yang membahas mengenai SKB yang baru saja dikeluarkan pemerintah dalam upaya mengatasi konflik masalah Ahmadiyah. Debat ini membahas mengenai kekuatan SKB, serta keberlangsungannya di Indonesia dalam memenuhi tuntutan rakyat baik dari pihak Ahmadiyah maupun dari pihak yang menuntut Ahmadiah dibubarkan. Sesuai dengan tema yang ada, maka debat ini dihadiri oleh dua kubu berbeda, yakni kubu yang puas akan SKB yang diterbitkan dengan kubu yang tidak puas dengan SKB. Perdebatan ini begitu seru dan “panas”. Kedua kubu saling berargumentasi dengan tegas dan tidak mau mengalah, mengingat yang dibahas sangatlah sensitif. Pihak yang setuju dengan SKB berpendapat bahwa SKB adalah sebuah keputusan yang tepat dan bersifat netral. SKB dianggap sebagai jalan keluar yang paling tepat untuk memecahkan masalah Ahmadiyah dengan tidak mengandalkan kekerasan. Sementara pihak yang tidak setuju dengan SKB berpendapat bahwa SKB belumlah cukup. SKB adalah sebuah keputusan “banci” dan tidak memberikan sebuah ketegasan dari pemerintah untuk menangani masalah Ahmadiyah secara serius. Perdebatan pun berlangsung dengan tegang. Pihak yang pro SKB melancarkan berbagai argumentasi dengan tenang dan tidak terburu-buru. Sementara pihak kontra melancarkan berbagai argumentasi dengan tegas dibarengi oleh teriakan “Allahuakbar” dari para pendukungnya.

Apapun itu, menurut saya, terdapat beberapa hal penting yang terjadi dalam debat ini. Di dalam Islam, terdapat tiga hubungan persaudaraan manusia, yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antar umat Islam), ukhuwah wathaniah (persaudaraan antar satu bangsa), serta ukhuwah insaniah (persaudaraan antar seluruh manusia). Di dalam debat ini, terdapat dua cara pandang yang berbeda antara pihak pro dan kontra sementara mereka berdua tidak melihat dari sisi mana lawannya memandang. Pihak pro SKB melihat masalah SKB dari perspektif ukhuwah wathoniah, dimana kita, sesama manusia sebangsa, tidak sepatutnya saling menyakiti. Kita diberikan kebebasan berkeyakinan dan karena itu tidaklah benar jika kita disakiti karena kita memiliki perbedaan keyakinan. Pun pengikut Ahmadiyah sesat, mereka harus diajak berdialog secara terus-menerus untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Sementara pihak kontra memandang dari sudut pandang ukhuwah Islamiyah, dimana Ahmadiyah telah mengotori ajaran Islam dan menyebarkan racun ditengah-tengah masyarakat Islam yang menimbulkan terjadinya kerusakan aqidah umat Islam. Untuk itu, diperlukan tindakan sesegera mungkin guna mencegah Ahmadiyah menyebarkan ajaranya.

Pihak kontra selalu memberikan argumentasi seputar bukti-bukti sesatnya Ahmadiyah, mulai dari diakuinya Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, ataupun kitab Tazkirah yang dianggap kitab suci oleh Ahmadiyah. Pihak ini selalu menggebu-gebu menyuarakan kata sesat kepada Ahmadiyah dan menghendaki Ahmadiyah dibubarkan. Mereka terus-menerus berargumentasi seputar aqidah Islam yang telah dirusak oleh Ahmadiyah. Sementara pihak pro selalu berargumentasi tentang masalah SKB yang sudah tepat diterapkan, karena SKB tidak merugikan pihak manapun. Pihak pro tidak samasekali memperdebatkan masalah aqidah karena, disamping pihak pro memang memiliki aqidah yang sama seperti kita dan tidak mengakui kebenran Ahmadiyah, masalah yang dibahas dalam debat kali ini bukanlah tentang masalah sesatnya Ahmadiyah, melainkan masalah SKB saja. Meskipun demikian, pihak pro sepertinya salah langkah. Mereka akhirnya ikut pula membahas masalah kesesatan Ahmadiyah melalui argumentasi-argumentasi yang semakin ngawur. Mengingat lawan mereka adalah orang ahli agama, pastinya pihak pro kalah argumen dengan pihak kontra. Disitulah lucunya.

Terlepas dari pihak manapun, menurut saya terdapat beberapa hal yang aneh dalam perdebatan ini:

Pertama, cara pandang pihak kontra. Saya berpendapat bahwa mereka kurang cerdik memandang case yang disinggung pada debat kali ini. Kenapa pada debat itu mereka selalu dan hanya membuktikan bahwa Ahmadiyah itu sesat? Kenapa mereka selalu saja memberikan pernyataan-pernyataan yang menekankan pada kesesatan Ahmadiyah dan bukannya memberikan pernyataan seputar SKB yang menjadi kasus pada debat ini, padahal pihak pro pun memiliki aqidah yang sama dengan mereka? Pernyataan pihak kontra seolah-olah telah out of case dan tidak lagi memahami tentang apa yang sedang diperdebatkan di sini. Mungkin harus dijelaskan bahwa debat ini bukanlah debat yang membahas mengenai kesesatan Ahmadiyah, tetapi debat mengenai SKB yang baru saja dikeluarkan pemerintah. Seandainya mereka memberikan argumentasi-argumentasi yang lebih mengena dan berhubungan dengan SKB, pastinya debat ini akan menjadi lebih baik.

Kedua, tingkah-laku para pendukung pihak kontra menurut saya kurang mencerminkan sikap manusia yang sedang berjihad melawan kesesatan. Mengapa? Karena saat mereka meneriakkan “Allahhuakbar” sempat saja ada dari pihak mereka yang tertawa kecil, “cengar-cengir” bahasa gaulnya. Apakah sikap ini pantas dilakukan? Bukankah kesan yang didapat orang awam akan berubah setelah melihat peristiwa ini? Orang-orang yang “cengar-cengir” tadi seolah hanya bemain-main dan ingin membuat “heboh” di televisi. Mereka tidak secara penuh sadar akan apa yang sedang dibelanya. Belum lagi perintah “Allahuakbar” yang diucapkan ada juga yang memotong pembicaraan pihak pro, seakan-akan mereka hanya bercanda saja. Sayang, padahal kalimat “Allahuakbar” pantasnya diucapkan secara penuh kesadaran, ketegasan, dan khidmat yang dalam.

Ketiga, pertanyaan dari pihak pro yang bertanya kepada pihak kontra tentang seberapa jauh mereka mengenal Ahmadiyah nampaknya sedikit lucu, mengingat pertanyaan ini pun sedikit out of case. Untuk apa pertanyaan ini dilontarkan, yang kemudian menjadi senjata makan tuan untuknya dan memang tidak berhubungan dengan apa yang sepanjang debat mereka nyatakan.

Keempat, pernyataan dari pihak pro yang seakan-akan menentang pihak kontra untuk berargumentasi masalah aqidah Islam. Untuk apa ini dilakukan? Bukan kapabilitas mereka untuk berargumentasi masalah ini. Dan pastinya, mereka pun kalah argument dengan pihak kontra.

Begitulah, keanehan-keanehan diatas tidak lain tidak bukan hanyalah sebuah analisis dari saya. Tentang benar-atau tidaknya, kita serahkan kepada Allah. Bagaimanapun, malalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan agar kita belajar untuk lebih dewasa dalam bersikap baik itu ketika kita berdebat, maupun saat kita benar-benar beraksi dalam kehidupan nyata. Jaga emosi, terus perbaiki dan bentengi aqidah kita dari berbagai macam godaan yang tidak akan pernah habis berkunjung.

Semoga bermanfaat.

Thursday, June 5, 2008

Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Taubat Tetapi Selalu Ada Waktu untuk Maksiat

aku takut ketika aku sadar bahwa selalu ada toleransi untuk berbuat maksiat. selalu ada kesempatan yang dibuat-buat untuk berbuat maksit. bahkan, selalu saja ada "kesempatan" lain untuk bertaubat.
mengapa selalu masih ada waktu untuk bertaubat?
mengapa aku selalu menganggap umurku masih panjang?
mengapa aku tidak takut?

terlalu gampang untuk mengucap kata maaf
terlalu gampang pula untuk ingkar janji
terlalu gampang untuk berbohong pada diri sendiri