Sunday, November 1, 2009

Menikmati 100 Buku Bisnis Terbaik

Resensi buku 100 Buku Bisnis Terbaik Sepanjang Masa. Dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi cetak maupun online, Minggu 1 November 2009.
======================================================================

Saturday, 31 October 2009

JIWA sebuah buku adalah suatu grand design pemikiran yang secara tersirat menjadi kekuatan yang mengantarkan setiap pembaca menuju atau paling tidak mendekati apa yang ingin disampaikan pengarang buku.

Bagi sebagian orang, menemukan jiwa sebuah buku merupakan salah satu rintangan terberat dalam memahami sebuah buku. Hal tersebut sangat beralasan karena setiap penulis memiliki tanggung jawab moral untuk dapat secara objektif menyampaikan kepada pembaca tentang pesan yang diinginkan sehingga pembaca bisa memahami apa yang disampaikan.

Secara alamiah, manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan simplifikasi terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Kerumitan adalah hal yang harus dihindari. Seperti yang tertuang di dalam salah satu kutipan buku ini, ”Musuh terbesar saat berpikir adalah kerumitan, karena menyebabkan kebingungan” (halaman 276). Gejala ini mencerminkan paradigma berpikir divide and conquer,y akni membagi masalah utama menjadi masalah-masalah sederhana, menyelesaikan masalah- masalah sederhana itu satu per satu, kemudian menyatukan solusi-solusi dari masalahmasalah sederhana tadi menjadi satu solusi untuk masalah utama.

Dalam kaitannya dengan pemahaman terhadap sekumpulan ide yang tersebar, buku 100 Buku Bisnis Terbaik Sepanjang Masa karya Jack Covert dan Todd Sattersten berupaya menyajikan ide-ide terbaik tentang formulasi bisnis dan strategi dalam menghadapi pasar meskipun ada juga yang bersifat umum. Secara substansi, Jack dan Todd mencantumkan 100 buah resensi buku-buku bisnis yang dibuat secara bergantian oleh mereka. Pada mulanya resensi-resensi penulis secara berkala dikonsumsi terbatas oleh para pengambil kebijakan di beberapa perusahaan, semacam executive summary.

Resensi-resensi ini merupakan resensi atas buku-buku yang telah diklasifikasikan sebagai bukubuku terbaik dengan memperhatikan ide, inovasi, kesesuaian dengan bisnis, serta manfaat yang didapat dari buku itu untuk keperluan bisnis kita. Di dalamnya termasuk resensi atas buku-buku fenomenal semisal The 7 Habits of Highly Effective People,GettingThings Done, Who Says Elephants Can’t Dance?, serta Emotional Intelligence.

Seratus buah resensi itu kemudian dikategorisasikan ke dalam 12 tema berbeda yang secara lebih spesifik mewakili permasalahan utama di dalam menjalankan bisnis. Kategorisasi ini tidak hanya membahas lingkup teknis berbisnis, tetapi membahas pula faktor-faktor lain yang juga penting. Sebagai contoh, di awal pembahasan justru kita akan mendapatkan resensi-resensi buku bisnis yang lebih berkisah mengenai jati diri serta tujuan hidup, bagaimana hal itu sangat berpengaruh terhadap langkah yang kita ambil, serta apa pengaruhnya terhadap orang lain di sekitar kita?

Berdasarkan pembagian 12 tema yang dilakukan Jack dan Todd, setiap pembaca akan mendapatkan gambaran umum yang biasanya dihadapi di dalam menjalankan bisnis. Mulai dari jati diri, tujuan, hingga masalah-masalah yang berkaitan dengan ide dan inovasi. Selain itu, ketika pembaca menghadapi masalah yang lebih spesifik, pembaca dapat dengan mudah mencari referensi buku yang patut dibaca sesuai dengan tema permasalahan yang sedang dihadapi.

Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah bahwa buku-buku yang diresensi ternyata tidak melulu mengenai buku bisnis murni. Misalnya saja buku What Should I Do with My Life karya PO Bronson (halaman 44). Bukannya bercerita tentang teknik ataupun strategi bisnis, buku ini justru berisi tentang kisah Bronson dalam menjawab pertanyaan universal yang dilontarkannya sendiri ketika berada di dalam masa sulit: ”Apa yang harus kulakukan dengan hidupku?” Contoh lain, buku The Goal karya Eliyahu M Goldratt dan Jeff Cox (halaman 246) yang justru adalah sebuah novel––sebuah kasus yang cukup unik untuk sebuah tipe buku bisnis. The Goal mengangkat kisah fiktif tentang perjuangan sebuah perusahaan untuk menyelamatkan sebuah divisi yang gagal. Kedua buku ini adalah contoh yang menggambarkan betapa buku ini memiliki keragaman isi serta susunan yang dinamis sehingga membuat pembaca akan antusias untuk membuka lembaran-lembaran berikutnya.

Setali tiga uang, membaca buku ini memberi kita keuntungan yang berlipat ganda. Kita tidak perlu bersibuk diri untuk mencari buku-buku bisnis satu per satu yang sesuai dengan masalah bisnis yang kita temui. Buku 100 Buku Bisnis Terbaik Sepanjang Masa menyediakan 100 buah pilihan buku dengan pembahasan masalah yang berbeda-beda. Buku ini seolah-olah adalah ”kamus” buku-buku bisnis yang mengarahkan kita sehingga dapat menghemat waktu, biaya, serta tenaga sebelum mencari buku yang sesuai. Meskipun begitu, fakta bahwa apa yang tertulis di dalam buku ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat Jack dan Todd dan bukan tulisan langsung dari pengarang- pengarang buku yang bersangkutan, membuat kita harus sedikit lebih cermat jika ingin membeli salah satu buku yang tercantum di dalam buku ini. Karena walau bagaimanapun, apa yang ditulis oleh Jack dan Todd adalah pendapat mereka sendiri, bukan pendapat langsung dari pengarang. Selain itu, secara teknis buku ini memiliki kekurangan dengan adanya kutipankutipan kalimat yang tidak dicantumkan nama pembuatnya. Agaknya hal ini sedikit riskan, terlebih jika kutipan-kutipan tersebut ditujukan sebagai ide utama pada setiap resensi di dalam buku itu. Namun, bukan berati kutipan tersebut tidak memiliki manfaat sama sekali, bahkan hal ini menjadi sarana penekanan makna yang terkandung pada setiap buku yang diresensi.(*)


Muhammad Mishbah
Peneliti di Pusat Kajian Strategik dan Pertahanan (CSDS)UI
Mahasiswa Ilmu Komputer UI

Saturday, October 31, 2009

Entah Kenapa, Keringatku Memuncak

Padahal pada dasarnya setiap manusia memiliki latar belakang yang berbeda. Namun kadang kita dengan mudahnya menilai seseorang sesaat setelah bertemu sekali, atau sebentar saja. Ataupun kalau tidak, menilai sesuatu yang tak terlihat. Padahal kenyataannya kita tidak barang sedikitpun memahami apa yang ada di balik itu semua.

Memahami manusia harus sabar. Pemahaman psikologis akan menyebabkan sikap kita lebih bijak. Terkadang kita berada pada posisi dimana hanya kitalah yang mengerti keadaan seseorang. Karena hanya kita yang dipercaya. Namun itu semua memiliki resiko bagi kita. Entah diprasangka buruk, entah dikucilkan, entah dimusuhi oleh yang lain. Namun, keyakinan tentunya lebih menjamin daripada perlakuan buruk apapun.

Tentang kawan yang memberiku banyak ilmu, wawasan, networking. ada sebagian orang yang tidak memahami karakteristik mu, sehingga mereka tidak menyukai dirimu. Mengumpat dibelakang.

Tentang kawan yang memberiku pelajaran pemikiran, kepercayaan, kasih sayang dan keberanian. Banyak orang yang tidak memahami karakter dirimu, kondisi psikologis, latar belakang, serta idealisme. Makanya sebagian mereka menganggap dirimu lancang, sombong.

Tentang semua orang yang dimusuhi golongan kanan. Tentang semua orang yang dibenci orang kiri. Apakah semuanya memahami satu sama lain?

Manusia itu istimewa. Dan harus diperlakukan istimewa juga.

Monday, September 7, 2009

Menjadi Besar dengan Berpikir

Resensi buku "Richard Branson, a Crazy Global Entrepreneur" dimuat di koran sindo edisi cetak maupun online 6 September 2009

-------------------------------------------------------------------------------------------------
Saturday, 05 September 2009

TERINGAT sebuah ungkapan bijak Tao Te Cing,“menguasai orang lain adalah kekuatan, tetapi menguasai diri sendiri adalah kemampuan yang sesungguhnya”. Sangat sederhana, tetapi sering kita abaikan.

Menguasai diri sendiri adalah kunci utama seorang pemimpin memikul tanggung jawabnya. Menyadari siapa diri kita, bagaimana karakteristik pribadi kita, dan melakukan kepemimpinan itu secara alamiah merupakan satu keunggulan tersendiri bagi seorang pemimpin. Apalagi kini banyak pemimpin di negeri ini yang tidak memiliki keautentikan di dalam gaya kepemimpinannya, cenderung mengikuti gaya orang lain, seolah kurang percaya diri. Bahkan mereka terbentuk oleh pencitraan tentang pemimpin ideal, padahal kesemuanya adalah ilusi. Tentunya hal ini adalah sebuah masalah karena pada hakikatnya, pemimpin adalah orang yang kita tiru, bukan orang yang meniru. Proses peniruan tersebut yang dibarengi dengan karakteristik sikap dasar dan pengalaman hidup menjadikan seorang pemimpin yang tangguh dan berbeda dengan pemimpin lain.

Salah seorang tokoh yang menunjukkan keautentikan dalam gaya kepemimpinan dan menjadikan organisasinya menjadi besar adalah Richard Branson, seorang CEO Virgin Group, Perusahaan besar yang pertumbuhannya lebih cepat dari pertumbuhan perusahaanperusahaan besar di dunia semisal Google atau Microsoft. Branson memiliki aksi-aksi yang out of the box (di luar kebiasaan), berani mengambil risiko, dan cenderung menggunakan insting kepemimpinan daripada tipologi kepemimpinan yang rutin dipelajari dalam literatur akademis yang selama ini ada. Gaya kepemimpinan yang dipraktikkannya termasuk orisinal.

Branson sangat mengutamakan prinsip kebaikan dan kemanfaatan sekitar. Artinya sampai sejauh mana tindakan-tindakan korporasi membawa manfaat bagi kemanusiaan? Sebagai contoh, tidak seperti pandangan umum yang menyatakan bahwa kapitalisme bertujuan untuk menindas golongan lemah,Branson sepakat dengan pendapat Profesor Muhammad Yunus (ekonom dan peraih Nobel Perdamaian tahun 2006) bahwa kapitalisme dapat––dan harus––memperkaya semua umat manusia. Prinsip utama yang dimiliki Branson adalah bahwa bisnis haruslah membuat orang lain lebih makmur, menghargai kehidupan, karena jika tidak,tentunya bisnis itu sungguh tidak berguna (hlm 6). Inilah keautentikan kepemimpinan Branson dalam memimpin Virgin Group.

Pemahaman seperti ini bisa dibaca dalam dua kacamata. Pertama, betul-betul berangkat dari kesadaran yang keluar dari logika umum kapitalisme. Kedua, hanya strategi untuk memperkuat kapitalisme dengan cara baru. Namun, rekam jejak Branson dan Virgin Group mengarah pada asumsi pertama meski tidak selalu benar.

Virgin Group dibangun oleh Branson dengan menggunakan konsep konglomerisme, bekerja pada berbagai bidang, dan menjadikan merek dagangnya sebagai merek gaya hidup. Tidak seperti beberapa perusahaan yang memilih fokus pada satu bidang saja, Bronson memilih banyak bidang. Bidang-bidang itu antara lain bidang perjalanan dan pariwisata, peristirahatan, perbelanjaan, media dan telekomunikasi,keuangan, kesehatan, bahkan hingga bidang sosial dan lingkungan. Tentunya hal ini menjadikan Virgin Group sebagai perusahaan yang memiliki banyak “kaki”, tidak mudah rubuh jika salah satu kakinya patah. Meskipun demikian, banyak kritik yang menghantam Virgin,terutama kritk yang mengatakan bahwa Virgin adalah perusahaan yang tidak fokus. Sepertinya hal ini benar dan konsep Virgin akan sangat berat dilakukan oleh siapa pun karena ia membutuhkan pengetahuan atau minimal pengalaman yang luar biasa dalam semua bidang tersebut. Untungnya, Branson mampu.

Menurut Branson, inti utama dalam mencapai kesuksesan bisnis adalah kepuasan pelanggan. Apa pun yang ditawarkan, selama kepuasan pelanggan dapat terjamin, keuntungan pun akan didapat. Kalau boleh dibilang, ini adalah karakteristik Virgin Group.(*)

Muhammad Mishbah
Peneliti di Pusat Kajian dan Strategik (CSDS) Pascasarjana UI
Mahasiswa Ilmu Komputer UI

Tuesday, August 25, 2009

Meluruskan Sejarah yang Bengkok

Resensi buku The Sedona Method
dimuat di Koran Seputar Indonesia edisi cetak dan online tanggal 9 Agustus 2009
------------------------------------------------------------------------------------------------

Lagu Let it be milik The Beatles dalam salah satu liriknya tertulis “and when the night is cloudy, there’s still a light that shines on me, shine until tomorrow, let it be.”

LIRIK tersebut sederhana tapi mengandung makna yang sangat dalam: segala sesuatu yang telah terjadi biarlah terjadi. Lirik ini mengingatkan kita akan manusia yang penuh dengan keterbatasan. Manusia selalu menginginkan peran lebih dalam mengatur kehidupan ataupun kendali atas kondisi-kondisi yang terkait dengannya. Akan tetapi, seperti yang sering kita rasakan juga, sering takdir berkata lain. Apa yang telah kita rencanakan dapat berubah 180 derajat hanya dalam hitungan detik. Apa yang telah kita raih dapat dengan mudah hilang sekejap mata. Apa yang dapat kita lakukan setelah itu? Let it be. Begitu kata The Beatles.

Lirik tersebut juga memiliki muatan filosofis yang dalam, berupa pengakuan keterbatasan meskipun telah semua dilakukan, atau dalam tradisi filsafat Jawa keharusan mengakui keterbatasan dan pasrah atas apa yang diterima, nrimo ing pandum.

Keterbatasan (limitation) selalu digunakan manusia untuk menoleransi segala bentuk perasaan yang sebenarnya mengganggu dirinya yang kemudian masuk dan menggerogoti sisi-sisi kearifan. Contoh mudah ketika kita putus cinta, menyadari bahwa sang kekasih tidak dapat menerima kita apa adanya, kita hanya terdiam dan menyesali kekurangan yang kita miliki. Pikiran kita atau lebih tepat dikatakan asumsi telah mengondisikan jiwa kita untuk menganggap bahwa kita memang benar-benar terbatas.

Kenyataan bahwa manusia memiliki keterbatasan adalah benar. Namun, argumentasi yang menyatakan bahwa manusia memiliki cara yang tidak terbatas untuk mengatasi keterbatasan tidak dapat dianggap salah. Hal inilah yang diangkat oleh Hale Dwoskin di dalam bukunya, The Sedona Method. Dwoskin berpendapat bahwa sesungguhnya manusia dapat dengan mudah melewati berbagai keterbatasan yang dimilikinya dengan sebuah kata kunci "letting go" (melepaskan). Berbeda dengan The Beatles yang menawarkan let it be (biarkanlah), Dwoskin memberikan let it go (lepaskanlah).

Konsep “melepaskan” merupakan inti dari Metode Sedona (The Sedona Method). Metode Sedona adalah sebuah metode praktis untuk melepaskan perasaan-perasaan dalam jiwa yang bersifat memberatkan, menghambat, membingungkan, ataupun segala rasa yang tidak baik bagi si pemilik perasaan. Metode Sedona akan membukakan pintu-pintu kebahagiaan tanpa batas (unlimited) dan seperti yang dikatakan Dwoskin di dalam pendahuluannya (hlm xx), “menjadikan kita sebagai seorang penemu spiritual, bukannya pencari spiritual”. Dengan cara “melepaskan”, kita akan terbebas dari belenggu pikiran dan emosi. Di dalam praktiknya, “melepaskan” tidak sesulit bermain catur. Bahkan, kalau boleh dibilang, inilah cara termudah dalam meraih kebebasan. Terdapat lima buah pertanyaan inti yang menjadi kunci dari “melepaskan”. Pertama, apa yang kita rasakan saat ini? Kedua, bisakah kita menerima perasaan ini? Ketiga, bisakah kita melepaskannya? Keempat, bersediakah kita melepaskannya? Kelima, kapan?

Manusia memiliki empat keinginan dasar yang hadir di bawah pikiran-pikiran emosi, keyakinan, sikap, dan perilaku. Keinginan-keinginan itu antara lain keinginan untuk mengendalikan, keinginan atas pengakuan, keinginan rasa aman, serta keinginan untuk menjadi terpisah. Proses pelepasan terhadap keempat keinginan dasar ini akan membantu kita menuju kebahagiaan sejati, rasa bebas yang sebebas-bebasnya. Terdapat sebuah kenyataan bahwa proses pelepasan salah satu keinginan dasar ini berarti juga melepaskan keinginan yang berlawanan terhadapnya. “Seperti melempar koin, Anda tidak dapat melempar ke udara kecuali Anda melambungkan kedua mata koin bersama-sama”( hlm 157).

Metode Sedona juga digunakan untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita lakukan. Sebagai contoh, seandainya kita ingin keluar dari kebiasaan merokok, biasanya, kita bertekad “saya tidak akan pernah merokok lagi”. Kenyataannya, komitmen ini hanya akan bertahan satu dua hari. Dengan Metode Sedona, kita menegaskan tekad yang sedikit lain, “saya akan merokok, tetapi saya akan melakukan pelepasan terlebih dahulu”. Begitulah. Kita harus melepas perasaan untuk melakukan kebiasaan buruk itu terlebih dahulu. Alasannya,karena semua pola kebiasaan dalam diri kita terkunci di dalam pola perasaan. Jadi, jika kita melepaskan perasaan, kita membebaskan pendorong terjadinya kebiasaan tersebut.

The Sedona Method sangat praktis dan menyerupai buku panduan dasar-dasar Metode Sedona. Artinya, jika ingin “mencicipi” dasar-dasar Metode Sedona, pembaca dapat secara langsung berpraktik berdasarkan buku ini tanpa perlu mengikuti training khusus yang secara resmi diadakan Sedona Training Associates, sebuah lembaga resmi yang dipimpin oleh Hale Dwoskin dan berfungsi sebagai tempat mengajarkan Metode Sedona.

Lebih dalam lagi, buku ini juga membahas konsep, latar belakang, manfaat, tujuan, serta filosofi dari Metode Sedona. Ini merupakan kelebihan yang membuat buku ini istimewa. Selain itu, kisah-kisah nyata yang diselipkan juga dapat membantu pembaca memahami teori-teori yang diberikan secara lebih menyeluruh. Kekurangan buku ini terletak pada penggunaan beberapa kalimat yang agak “berputar-putar”, sehingga memerlukan konsentrasi tersendiri untuk memahaminya. Bagaimanapun juga, buku ini sangat cocok bagi Anda yang mendambakan kebebasan serta ketenangan jiwa. Seperti yang tertulis dalam Doa Ketenangan karya Reinhold Neibuhr (hal.123): “Tuhan, bantu saya untuk tenang agar bisa menerima sesuatu yang saya tidak bisa mengubahnya, semangat untuk mengubah sesuatu yang saya bisa, dan kebijaksanaan untuk memahami perbedaan”. (*)

Muhammad Mishbah,
Peneliti di Pusat Kajian Strategik dan Pertahanan (CSDS), Pascasarjana UI
Mahasiswa Ilmu Komputer UI

Tuesday, July 21, 2009

Blogumus: Feel the Roll a!!

Blogumus is a kind of web plugin made for blogger (adopting wp-cumulus). As you can see on my sidebar, blogusmus provide an artistic way in managing our blog’s tags, links, categories, etc. When we hover the mouse through it, the menu listed will roll up, down, right, or left, then stop depend on the mouse’s arrow. Originally, blogumus is converted from wordpress to blogger by Amanda Fazani. This is a little explanation about blogumus taken from her blog:


"Blogumus" is an Flash based tag cloud widget which uses scripts converted from Roy Tanck's WP Cumulus plugin for Wordpress. I fell in love with Roy's original Cumulus plugin when I saw it, and simply had to learn how to convert this for use in Blogger powered blogs."

Actually, although there are so many explanations, information, and also copy-pasted postings about blogumus/wp-cumulus, there still no explanation that describe by detail the way Roy Tanck made wp-cumulus. I do really want to know how to combine a flash-based animation with sophisticated script that links the rolling text with the related URL. What an original!!

As we know, blogumus makes our blog more artistic, fresh designed, and also dynamic-looked. However, it doesn’t provide an ‘open link in new tab’ service. So, if we want to use blogumus/wpcumulus, the consequence is that we will busy in ‘back-forward’-ing the window.

How to Install?
This is an example script made by Amanda Fazani to install blogumus in our blog (blogger):

First, search (CTRL + F) this script on ‘layout > edit HTML’ section on your blog:

<b:section class='sidebar' id='sidebar' preferred='yes'>

Immediately after that line, paste this following script:

<b:widget id='Label99' locked='false' title='Labels' type='Label'>
<b:includable id='main'>
<b:if cond='data:title'>
<h2><data:title/></h2>
</b:if>
<div class='widget-content'>
<script src='http://halotemplates.s3.amazonaws.com/wp-cumulus-example/swfobject.js' type='text/javascript'/>
<div id='flashcontent'>Blogumulus by <a href='http://www.roytanck.com/'>Roy Tanck</a>and<a href='http://www.bloggerbuster.com'>Amanda Fazani</a></div>
<script type='text/javascript'>
var so = new SWFObject(&quot;http://halotemplates.s3.amazonaws.com/wp-cumulus-example/tagcloud.swf&quot;, &quot;tagcloud&quot;, &quot;240&quot;, &quot;300&quot;, &quot;7&quot;, &quot;#ffffff&quot;);
// uncomment next line to enable transparency
//so.addParam(&quot;wmode&quot;, &quot;transparent&quot;);
so.addVariable(&quot;tcolor&quot;, &quot;0x333333&quot;);
so.addVariable(&quot;mode&quot;, &quot;tags&quot;);
so.addVariable(&quot;distr&quot;, &quot;true&quot;);
so.addVariable(&quot;tspeed&quot;, &quot;100&quot;);
so.addVariable(&quot;tagcloud&quot;, &quot;<tags><b:loop values='data:labels' var='label'><a expr:href='data:label.url' style='12'><data:label.name/></a></b:loop></tags>&quot;);
so.addParam(&quot;allowScriptAccess&quot;, &quot;always&quot;);
so.write(&quot;flashcontent&quot;);
</script>
<b:include name='quickedit'/>
</div>
</b:includable>
</b:widget>

Then preview the template!
Based on amanda’s blog, there still a problem with her blogumus; i.e. the links doesn’t work. Actually Amanda had updated the script (the above script is the newest one). However, if you still face any problem about blogcumulus, you can tell me by directly comment this post, or visit Amanda’s blog for detail and accurate explanation.